Pangan Bukan Sekadar soal Pasokan
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 05:57 WIB
Konsistensi
Kecenderungan rawannya krisis pangan di dunia ini sebenarnya telah diingatkan oleh FAO, yaitu sejak diselenggarakan Konferensi Pangan Sedunia di Roma pada 1974. Indikasi ini kian nyata dengan kian banyak negara di beberapa kawasan dunia cenderung mengarah ke kemiskinan sebagai akibat tersebut. FAO juga menekankan bahwa masalah pangan hendaknya jangan dilihat semata-mata hanya pada masalah di negara-negara berkembang, negara-negara maju pun hendaknya berperan aktif untuk turut membantu mengatasinya. Pada World Food Summit (KTT Pangan Dunia) FAO, November 1996 di Roma, dideklarasikan kemauan politik dan komitmen untuk mencapai ketahanan pangan dan melanjutkan upaya menghapuskan kelaparan dengan memperkecil jumlah penderita kurang pangan.
Problem ketahanan pangan memang sangat kompleks, tidak hanya terkait dengan sisi pasokan pangan yang terkadang harus ditutup dengan impor pangan, tetapi juga aspek harga pangan yang murah untuk rakyat serta akses untuk mendapatkan pangan yang mudah. Oleh karena itu, perkembangan PO juga harus diperhatikan meski di sisi lain juga lebih penting untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Karena itu, komitmen atas ketahanan pangan pada dasarnya adalah tanggung jawab bersama.
Jadi, masa pandemi Covid-19 secara tidak langsung menjadi tantangan karena kemiskinan bertambah sebagai akibat dari PHK massal di sejumlah industri. Padahal, situasi yang menyertainya adalah ancaman kelaparan dan tentu bisa berdampak terhadap berbagai kasus kriminalitas. Mata rantai ini memberikan gambaran bahwa menjaga ketahanan pangan adalah tanggung jawab negara dan karenanya membangun ekonomi perdesaan menjadi penting, termasuk melalui alokasi dana desa yang tahun ini sebesar Rp72 triliun.
Kecenderungan rawannya krisis pangan di dunia ini sebenarnya telah diingatkan oleh FAO, yaitu sejak diselenggarakan Konferensi Pangan Sedunia di Roma pada 1974. Indikasi ini kian nyata dengan kian banyak negara di beberapa kawasan dunia cenderung mengarah ke kemiskinan sebagai akibat tersebut. FAO juga menekankan bahwa masalah pangan hendaknya jangan dilihat semata-mata hanya pada masalah di negara-negara berkembang, negara-negara maju pun hendaknya berperan aktif untuk turut membantu mengatasinya. Pada World Food Summit (KTT Pangan Dunia) FAO, November 1996 di Roma, dideklarasikan kemauan politik dan komitmen untuk mencapai ketahanan pangan dan melanjutkan upaya menghapuskan kelaparan dengan memperkecil jumlah penderita kurang pangan.
Problem ketahanan pangan memang sangat kompleks, tidak hanya terkait dengan sisi pasokan pangan yang terkadang harus ditutup dengan impor pangan, tetapi juga aspek harga pangan yang murah untuk rakyat serta akses untuk mendapatkan pangan yang mudah. Oleh karena itu, perkembangan PO juga harus diperhatikan meski di sisi lain juga lebih penting untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Karena itu, komitmen atas ketahanan pangan pada dasarnya adalah tanggung jawab bersama.
Jadi, masa pandemi Covid-19 secara tidak langsung menjadi tantangan karena kemiskinan bertambah sebagai akibat dari PHK massal di sejumlah industri. Padahal, situasi yang menyertainya adalah ancaman kelaparan dan tentu bisa berdampak terhadap berbagai kasus kriminalitas. Mata rantai ini memberikan gambaran bahwa menjaga ketahanan pangan adalah tanggung jawab negara dan karenanya membangun ekonomi perdesaan menjadi penting, termasuk melalui alokasi dana desa yang tahun ini sebesar Rp72 triliun.
(bmm)
Lihat Juga :