Pengamat: Semua Lembaga Intelijen Modern Punya Jubir
Senin, 12 Oktober 2020 - 06:06 WIB
Pengamat Intelijen Ridlwan Habib menilai dalam disiplin ilmu intelijen modern, lembaga- lembaga intelijen profesional di seluruh dunia punya juru bicara (Jubir). Foto/SINDOnews
JAKARTA - Pengamat Intelijen Ridlwan Habib menilai dalam disiplin ilmu intelijen modern, lembaga- lembaga intelijen profesional di seluruh dunia punya juru bicara (Jubir).
Dia menegaskan fungsi jubir lembaga intelijen bukan membongkar misi rahasia. Tapi dia memberikan penjelasan kepada publik tentang berbagai isu. Bahwa fungsi intelijen melapor pada Presiden tetap berjalan. Namun begitu masyarakat bisa mendapatkan informasi yang akurat. "CIA misalnya, punya juru bicara , seorang wanita, namanya Nicole de Hay," ujar alumni S-2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia (UI), Ahad (11/10/2020). (Baca juga: DPR Dukung Penuh Temuan Obat Pasien Covid-19 Milik BIN dan TNI)
Pernyataan Ridlwan ini menanggapi komentar anggota DPR Fadli Zon dan mantan anggota DPR Fahri Hamzah, pekan lalu. Keduanya mengritik Badan Intelijen Negara (BIN) yang memiliki juru bicara. Alasannya data intelijen hanya untuk konsumsi Presiden dan tidak boleh dibicarakan ke publik. "Kalau era Orde Baru memang lembaga intelijen kesannya misterius dan tertutup, " ujarnya. (Baca juga: BIN Kantongi Nama Dalang di Balik Kerusuhan Demo Omnibus Law)
Kemudian lembaga intelijen Australia yakni Australia Security Intelligence Organization atau ASIO juga mempunyai jubir yang secara rutin membuat pers briefing. Kemudian CIA, bahkan lembaga intelijen Inggris di bidang signal intelijen GCHQ juga punya juru bicara. "Nama jubirnya Andrew Pike, GCHQ Inggris bahkan punya akun Twitter," katanya. (Baca juga: Puluhan Perwira Intelijen TNI AD Ikuti Pembekalan di Markas Kodam II Sriwijaya)
Dia menegaskan fungsi jubir lembaga intelijen bukan membongkar misi rahasia. Tapi dia memberikan penjelasan kepada publik tentang berbagai isu. Bahwa fungsi intelijen melapor pada Presiden tetap berjalan. Namun begitu masyarakat bisa mendapatkan informasi yang akurat. "CIA misalnya, punya juru bicara , seorang wanita, namanya Nicole de Hay," ujar alumni S-2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia (UI), Ahad (11/10/2020). (Baca juga: DPR Dukung Penuh Temuan Obat Pasien Covid-19 Milik BIN dan TNI)
Pernyataan Ridlwan ini menanggapi komentar anggota DPR Fadli Zon dan mantan anggota DPR Fahri Hamzah, pekan lalu. Keduanya mengritik Badan Intelijen Negara (BIN) yang memiliki juru bicara. Alasannya data intelijen hanya untuk konsumsi Presiden dan tidak boleh dibicarakan ke publik. "Kalau era Orde Baru memang lembaga intelijen kesannya misterius dan tertutup, " ujarnya. (Baca juga: BIN Kantongi Nama Dalang di Balik Kerusuhan Demo Omnibus Law)
Kemudian lembaga intelijen Australia yakni Australia Security Intelligence Organization atau ASIO juga mempunyai jubir yang secara rutin membuat pers briefing. Kemudian CIA, bahkan lembaga intelijen Inggris di bidang signal intelijen GCHQ juga punya juru bicara. "Nama jubirnya Andrew Pike, GCHQ Inggris bahkan punya akun Twitter," katanya. (Baca juga: Puluhan Perwira Intelijen TNI AD Ikuti Pembekalan di Markas Kodam II Sriwijaya)
Lihat Juga :