Saatnya Makna Baru Kata Sosial dalam Media Sosial

Sabtu, 03 Oktober 2020 - 06:30 WIB
Demokratisasi komunikasi di tahap ini mulai tampak lamat-lamat dan jadi kelaziman. Semua orang yang punya akses terhadap interconnecting networking, kepanjangan dari internet, dapat memuat informasi apapun pada medium yang tersedia saat itu. Sebelumnya, kemewahan publikasi hanya dapat dinikmati perusahaan-perusahaan besar, atau pesohor dengan aneka prestasinya.

Di awal evolusi yang masih sederhana ini pun, banyak kalangan yang menyelami hidup di masa pra digital, tak paham terhadap adanya aktivitas menampilkan aktivitas pribadi beserta citra visualnya di hadapan publik.

Mereka yang lahir di era Gen X, yang merupakan generasi yang mengalami peralihan ke era digital, merasa tabu memamerkan buku hariannya di hadapan publik. Padahal itu identik dengan yang dilakukan, saat seseorang menampilkan aktivitas pribadinya di weblog.

Lalu dengan hadirnya teknologi Web 2.0 yang memberi kesempatan bagi tiap pengguna teknologi, untuk berinteraksi langsung secara real time, makna sosial dari media sosial makin riuh. Interaktivitas, di dunia tak digital yang terdiri dari daya tarik personal dan kandungan konten, jadi penentu. Manakala personal, sebagai produser dan distributor informasi punya nilai unggul di hadapan khalayaknya, interaktivitasnya bakal tinggi. Lebih-lebih jika itu diikuti dengan kandungan konten yang dipertukarkannya.

Secara rumus kemudian berlaku, interaktivitas adalah fungsi dari nilai personal ditambah kandungan kontennya. Dalam Realitas digital, itu tak beda. Medium digital justru melipatgandakan berlakunya rumus. Karena tiap personal produsen dan distributor kandungan konten, dapat melakukannnya lebih leluasa, kapan saja.

Manakala dalam realitasnya, interaktivitas di dunia digital identik dengan nilai ekonomi dapat diakumulasikan, tiap pelaku berkompetisi. Mereka memoles elemen interaktivitas : nilai personal dan kandungan konten. Ini sesuai dengan uraian Charlene Li dan Josh Bernoff, 2008 tentang Groundswell.

Keduanya mengemukakan, manusia dapat meraih derajat ekonomi yang lebih tinggi, dengan melibatkan pemanfaatan teknologi. Kehidupan manusia yang semula biasa-biasa saja, jadi naik derajat ekonominya, dengan kuasa teknologi. Terdapat segitiga siklikal dalam groundswell: manusia, teknologi dan ekonomi. Ketiganya bisa dibaca dari arah mana saja, untuk menghasilkan perubahan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!