Indonesia - China Mulai Manjauhi Dolar AS
Jum'at, 02 Oktober 2020 - 06:21 WIB
Sebelum petinggi BI duduk bersama pejabat BpoC dalam urusan LCS, pihak BI terlebih dahulu meneken kesepakatan dengan Kementerian Keuangan Jepang terkait penyelesaian transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal, rupiah atau yen. Adapun nota kesepahaman tersebut ditandatangani pada 5 Desember 2019. Bahkan jauh sebelum bersepakat dengan pemerintah Negeri Matahari Terbit, bank sentral sudah bekerja sama dengan BoT dan BNM dalam urusan LCS, tepatnya pada 11 Desember 2017.
Terlepas dari kesepakatan antara bank sentral China dan BI yang mendorong penggunaan uang lokal dalam bertransaksi perdagangan dan investasi, menarik dicermati adalah perkembangan mata uang yuan yang semakin berotot. Buktinya, mata uang yuan kini menjadi cadangan mata uang terbesar ketiga di dunia, setelah dolar AS dan euro. Predikat tersebut disematkan oleh Morgan Stanley berdasarkan hasil analisis yang dipublikasikan awal September lalu. Posisi yuan saat ini telah berkontribusi sekitar 2% dari aset cadangan devisa dunia. Angka tersebut diproyeksi melesat menjadi 10% pada 2030. Apabila prediksi itu terbukti maka yuan akan mengungguli level yen, Jepang dan pound, Inggris.
Memang, pemerintah China tidak pernah lelah mempromosikan penggunaan yuan atau yang dikenal sebagai renmimbi (RMB). Dan berbagai upaya dilakukan agar lembaga keuangan asing masuk ke pasar domestik. Bahkan investor asing memilih China untuk menanam modalnya karena potensi keuntungannya lebih tinggi dibanding negara lainnya. Pada tahun ini, laju pertumbuhan ekonomi China memang tersandung pandemi Covid-19, namun sejumlah lembaga riset internasional memprediksi perekonomian Negeri Bambu itu bisa bangkit lagi bahkan lebih cepat dari negara lainnya.
Bagaimana dengan dolar AS? Akibat kebijakan konfrontaif dari Presiden AS, Donald Trump, ternyata telah memicu gelombang ketidakpuasan dari berbagai negara. Salah satu bentuk protes adalah lahirnya kesepakatan LCS dari berbagai negara, termasuk kesepakatan BI dan bank sentral China yang meninggalkan dolar AS sebagai alat transaksi. Dolar AS mulai dijauhi. (*)
Terlepas dari kesepakatan antara bank sentral China dan BI yang mendorong penggunaan uang lokal dalam bertransaksi perdagangan dan investasi, menarik dicermati adalah perkembangan mata uang yuan yang semakin berotot. Buktinya, mata uang yuan kini menjadi cadangan mata uang terbesar ketiga di dunia, setelah dolar AS dan euro. Predikat tersebut disematkan oleh Morgan Stanley berdasarkan hasil analisis yang dipublikasikan awal September lalu. Posisi yuan saat ini telah berkontribusi sekitar 2% dari aset cadangan devisa dunia. Angka tersebut diproyeksi melesat menjadi 10% pada 2030. Apabila prediksi itu terbukti maka yuan akan mengungguli level yen, Jepang dan pound, Inggris.
Memang, pemerintah China tidak pernah lelah mempromosikan penggunaan yuan atau yang dikenal sebagai renmimbi (RMB). Dan berbagai upaya dilakukan agar lembaga keuangan asing masuk ke pasar domestik. Bahkan investor asing memilih China untuk menanam modalnya karena potensi keuntungannya lebih tinggi dibanding negara lainnya. Pada tahun ini, laju pertumbuhan ekonomi China memang tersandung pandemi Covid-19, namun sejumlah lembaga riset internasional memprediksi perekonomian Negeri Bambu itu bisa bangkit lagi bahkan lebih cepat dari negara lainnya.
Bagaimana dengan dolar AS? Akibat kebijakan konfrontaif dari Presiden AS, Donald Trump, ternyata telah memicu gelombang ketidakpuasan dari berbagai negara. Salah satu bentuk protes adalah lahirnya kesepakatan LCS dari berbagai negara, termasuk kesepakatan BI dan bank sentral China yang meninggalkan dolar AS sebagai alat transaksi. Dolar AS mulai dijauhi. (*)
(bmm)
Lihat Juga :