UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Jum'at, 10 Juli 2026 - 13:51 WIB
Dia sependapat bahwa barang-barang asal China itu memang dibanderol dengan harga sangat murah, dan bahkan sempat menjadi andalan UMKM Indonesia.
Mengutip pendapat seorang pakar ekonomi asal Universitas Indonesia, Johanes menjelaskan bahwa pada awalnya setidaknya dalam 10 tahun lalu, barang-barang dari China bersama dengan hadirnya perdagangan elektronik sangat membantu UMKM. “Para pedagang toko daring bisa mendapatkan barang yang murah untuk dijual,” kata Johanes, Jumat (10/7/2026).
Sementara, platform jual beli daring seperti TikTok Shop menjadi wahana bagi para pedagang untuk menemukan pembeli. Namun dalam perkembangan selanjutnya, pedagang asal luar negeri, termasuk China dapat melakukan aktivitas menjual langsung melalui platform daring di atas.
Hal inilah yang pada waktu itu menjadi keprihatinan bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah merespons keprihatinan itu dengan menerapkan regulasi yang membuat platform tersebut harus mengubah diri dan berkolaborasi dengan platform asal Indonesia. Namun demikian, kolaborasi tersebut tidak menghapus fenomena masuknya barang berharga murah dari luar negeri, khususnya China.
Meski sudah berlangsung dalam periode waktu yang panjang, fenomena banjir barang murah dari China makin meningkat dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat dari kelebihan kapasitas produksi (over capacity) yang terjadi di negara itu.
Hasil sementara dari sebuah penelitian yang dilaksanakan Amore Minayora dari University of the West of England (UWE) memperlihatkan bahwa fenomena banjir barang dari China dan negara-negara asing lainnya tak lantas membuat para pelaku usaha UMKM putus asa.
“Masuknya barang-barang dari China melalui platform perdagangan daring (e-commerce) tidak membuat pengusaha kecil dan menengah mati langkah. Ketahanan pengusaha UMKM di Jakarta berasal dari kedekatan akses dan relasi dengan jejaring lokal seperti dengan rantai pasok lokal (local supply change), penyedia jasa logistik, dan menjadi faktor utama yang mendukung mereka untuk mengembangkan usaha dan berkompetisi secara sehat. Sebab itu, menjaga hubungan dengan para pembeli (consumer) di luar platform daring menjadi strategi yang sangat krusial,” ujar Amore dalam seminar berjudul “Jakarta Hustle: Resilience and Resourcefulness beyond E-Commerce Platform,” Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.
Mengutip pendapat seorang pakar ekonomi asal Universitas Indonesia, Johanes menjelaskan bahwa pada awalnya setidaknya dalam 10 tahun lalu, barang-barang dari China bersama dengan hadirnya perdagangan elektronik sangat membantu UMKM. “Para pedagang toko daring bisa mendapatkan barang yang murah untuk dijual,” kata Johanes, Jumat (10/7/2026).
Sementara, platform jual beli daring seperti TikTok Shop menjadi wahana bagi para pedagang untuk menemukan pembeli. Namun dalam perkembangan selanjutnya, pedagang asal luar negeri, termasuk China dapat melakukan aktivitas menjual langsung melalui platform daring di atas.
Hal inilah yang pada waktu itu menjadi keprihatinan bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah merespons keprihatinan itu dengan menerapkan regulasi yang membuat platform tersebut harus mengubah diri dan berkolaborasi dengan platform asal Indonesia. Namun demikian, kolaborasi tersebut tidak menghapus fenomena masuknya barang berharga murah dari luar negeri, khususnya China.
Meski sudah berlangsung dalam periode waktu yang panjang, fenomena banjir barang murah dari China makin meningkat dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat dari kelebihan kapasitas produksi (over capacity) yang terjadi di negara itu.
Hasil sementara dari sebuah penelitian yang dilaksanakan Amore Minayora dari University of the West of England (UWE) memperlihatkan bahwa fenomena banjir barang dari China dan negara-negara asing lainnya tak lantas membuat para pelaku usaha UMKM putus asa.
“Masuknya barang-barang dari China melalui platform perdagangan daring (e-commerce) tidak membuat pengusaha kecil dan menengah mati langkah. Ketahanan pengusaha UMKM di Jakarta berasal dari kedekatan akses dan relasi dengan jejaring lokal seperti dengan rantai pasok lokal (local supply change), penyedia jasa logistik, dan menjadi faktor utama yang mendukung mereka untuk mengembangkan usaha dan berkompetisi secara sehat. Sebab itu, menjaga hubungan dengan para pembeli (consumer) di luar platform daring menjadi strategi yang sangat krusial,” ujar Amore dalam seminar berjudul “Jakarta Hustle: Resilience and Resourcefulness beyond E-Commerce Platform,” Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.
Lihat Juga :