Demam Piala Dunia 2026: Ketika Indonesia Tetap Menjadi Juara di Tribun Dunia
Jum'at, 03 Juli 2026 - 21:47 WIB
Antusiasme tak berhenti sampai di situ. Di Maluku, sepak bola sering kali menjadi sesuatu yang lebih besar. Pasalnya, Maluku punya ruang nostalgia identitas budaya dengan Belanda.
Pemandangan masyarakat Maluku yang mengenakan jersei oranye saat tim nasional Belanda berlaga bukanlah fenomena baru. Bahkan, di sejumlah desa dan kota di Maluku, dukungan terhadap Belanda dalam turnamen besar dunia kerap terlihat begitu kuat. Bagi sebagian orang di luar Maluku, fenomena ini mungkin dianggap unik, bahkan membingungkan. Namun jika ditelusuri lebih jauh, dukungan tersebut memiliki akar sejarah, sosial, dan emosional yang panjang.
Pernyataan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, saat berkunjung ke Ambon beberapa waktu lalu jadi pengingat bahwa sepak bola telah berkembang menjadi salah satu instrumen diplomasi budaya yang efektif antara kedua pihak. Gerritsen menilai hubungan Maluku dan Belanda tidak berhenti pada catatan sejarah masa lalu, melainkan terus hidup melalui berbagai interaksi sosial, budaya, dan olahraga.
Ditambah lagi dengan adanya generasi baru yang kembali menghadirkan kebanggaan melalui sosok Tijjani Reijnders . Kehadiran pemain keturunan Maluku dalam skuad Belanda membuat masyarakat Maluku merasa memiliki keterikatan emosional yang lebih dekat dengan tim Oranye. Mereka tidak hanya menonton pertandingan, tetapi juga melihat representasi identitas mereka berada di level sepak bola tertinggi dunia.
Di media sosial, perdebatan tentang kandidat juara mengalahkan diskusi politik. Jersei berbagai negara memenuhi jalanan. Ada yang mengenakan Argentina dengan nomor punggung Lionel Messi, ada yang setia pada kuning-hijau Brasil, ada pula yang menjadikan Jepang sebagai simbol kebanggaan Asia.
Fenomena ini mungkin terlihat aneh bagi negara-negara lain. Bagaimana mungkin masyarakat begitu fanatik terhadap tim nasional yang bukan miliknya? Namun bagi Indonesia, sepak bola memang tidak pernah sekadar soal identitas nasional. Ia telah menjelma menjadi budaya populer yang melampaui batas negara.
Warung kopi penuh sesak saat laga besar berlangsung. Penjualan jersei meningkat. Pedagang makanan kebanjiran pembeli yang bergadang menonton pertandingan. Media sosial berubah menjadi stadion virtual yang tidak pernah sepi.
Ada ekonomi yang bergerak. Ada ruang sosial yang hidup. Ada percakapan yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Di tengah perbedaan politik, agama, suku, maupun pilihan hidup, sepak bola menghadirkan satu bahasa yang dipahami semua orang.
Pemandangan masyarakat Maluku yang mengenakan jersei oranye saat tim nasional Belanda berlaga bukanlah fenomena baru. Bahkan, di sejumlah desa dan kota di Maluku, dukungan terhadap Belanda dalam turnamen besar dunia kerap terlihat begitu kuat. Bagi sebagian orang di luar Maluku, fenomena ini mungkin dianggap unik, bahkan membingungkan. Namun jika ditelusuri lebih jauh, dukungan tersebut memiliki akar sejarah, sosial, dan emosional yang panjang.
Pernyataan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, saat berkunjung ke Ambon beberapa waktu lalu jadi pengingat bahwa sepak bola telah berkembang menjadi salah satu instrumen diplomasi budaya yang efektif antara kedua pihak. Gerritsen menilai hubungan Maluku dan Belanda tidak berhenti pada catatan sejarah masa lalu, melainkan terus hidup melalui berbagai interaksi sosial, budaya, dan olahraga.
Ditambah lagi dengan adanya generasi baru yang kembali menghadirkan kebanggaan melalui sosok Tijjani Reijnders . Kehadiran pemain keturunan Maluku dalam skuad Belanda membuat masyarakat Maluku merasa memiliki keterikatan emosional yang lebih dekat dengan tim Oranye. Mereka tidak hanya menonton pertandingan, tetapi juga melihat representasi identitas mereka berada di level sepak bola tertinggi dunia.
Di media sosial, perdebatan tentang kandidat juara mengalahkan diskusi politik. Jersei berbagai negara memenuhi jalanan. Ada yang mengenakan Argentina dengan nomor punggung Lionel Messi, ada yang setia pada kuning-hijau Brasil, ada pula yang menjadikan Jepang sebagai simbol kebanggaan Asia.
Fenomena ini mungkin terlihat aneh bagi negara-negara lain. Bagaimana mungkin masyarakat begitu fanatik terhadap tim nasional yang bukan miliknya? Namun bagi Indonesia, sepak bola memang tidak pernah sekadar soal identitas nasional. Ia telah menjelma menjadi budaya populer yang melampaui batas negara.
Indonesia Tak Bermain, tapi Tetap Menang
Demam gila bola tanpa Indonesia di Piala Dunia justru tidak mengurangi antusiasme publik. Fenomena ini memperlihatkan sepak bola menjadi hiburan kolektif yang melampaui hasil pertandingan. Turnamen dunia bukan hanya tentang siapa yang bermain, tetapi tentang bagaimana masyarakat menikmatinya bersama-sama.Warung kopi penuh sesak saat laga besar berlangsung. Penjualan jersei meningkat. Pedagang makanan kebanjiran pembeli yang bergadang menonton pertandingan. Media sosial berubah menjadi stadion virtual yang tidak pernah sepi.
Ada ekonomi yang bergerak. Ada ruang sosial yang hidup. Ada percakapan yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Di tengah perbedaan politik, agama, suku, maupun pilihan hidup, sepak bola menghadirkan satu bahasa yang dipahami semua orang.
Lihat Juga :