Buku Sang Arsitek Presisi Polri Ulas Kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo

Rabu, 24 Juni 2026 - 23:22 WIB
Selain mengupas aspek biografis, buku ini juga membedah visi PRESISI (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan) sebagai paradigma kerja Polri, serta menempatkannya dalam kerangka akademik disrupsi demokrasi. Hal ini merujuk pada pemikiran Clayton Christensen, Jürgen Habermas, dan Fareed Zakaria, untuk menjelaskan peran institusi kepolisian sebagai penyeimbang (shock absorber) di tengah tekanan polarisasi sosial, viralitas media sosial, dan ekspektasi publik yang terus meningkat.

Baca juga: Kapolri: ASN Sipil Duduki Jabatan di Polri Akan Diatur lewat PP atau Perpres

Buku ini juga mengulas tentang Grand Strategy Polri 2025–2045, peta jalan transformasi kepolisian menuju 'Excellent Institution' dan Polri 4.0 yang dirancang untuk merespons ancaman hybrida di masa depan. Lebih lanjut, Ali Ramadhan lima pesan sekaligus dari buka ini. Pertama, bahwa kepemimpinan merupakan proses yang tidak tumbuh secara instan.

"Di buku ini, jejak karir Listyo Sigit Prabowo digambarkan sebagai hasil dari kerja lapangan bertahun-tahun, bukan jalur instan terlebih koneksi politik dan medan perkhidmatan Jend.Pol Listyo Sigit Prabowo di institusi kepolisian tidak hanya dicerminkan melalui dedikasi semata, tetapi juga prestasi dan visi yang diartikulasikan secara kongkrit," ungkap Ali Ramadhan.

Kedua, kata Ali Ramadhan, konsepsi atau visi PRESISI merupakan paradigma Polri untuk merespon ragam tantangan institusional seperti, viralitas atau fenomena post truth, serta tuntutan due process of law di era digital.

Ketiga, Polri sebagai shock absorber demokrasi yang dimaknai bahwa sejatinya, kepolisian bukan penanggung tunggal efek dari disrupsi demokrasi. Sejatinya, menjaga demokrasi adalah tanggung jawab kolektif bangsa, dan bukan bukan beban tunggal institusi kepolisian.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!