Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia

Minggu, 21 Juni 2026 - 17:26 WIB
Namun tantangan terbesar bukan lagi akses pendidikan, melainkan kualitas dan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masa depan. Jika Indonesia ingin menjadi negara maju pada 2045, maka keberhasilan MBG harus diikuti oleh lompatan besar dalam pendidikan STEM, riset, kecerdasan buatan, semikonduktor, teknologi digital, manufaktur maju, dan inovasi industri. Sebab sejarah menunjukkan bahwa negara yang menguasai teknologi tidak selalu negara yang paling kaya sumber daya alam, melainkan negara yang paling serius membangun manusianya.

Dalam konteks ini, program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo sesungguhnya memiliki makna strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar program bantuan sosial. Berbagai penelitian global menunjukkan bahwa kecukupan gizi pada usia dini berpengaruh langsung terhadap perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas kerja, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Berdasarkan data pemerintah, MBG ditargetkan menjangkau puluhan juta anak sekolah, santri, serta ibu hamil dan menyusui. Jika dijalankan secara konsisten dan tepat sasaran, program ini dapat menjadi investasi sumber daya manusia terbesar dalam sejarah Indonesia. Iran mengajarkan bahwa teknologi canggih tidak lahir dari pabrik, tetapi dari ruang kelas, laboratorium, dan kualitas manusia yang dibangun sejak usia dini.

Kemandirian Industri Strategis dan Teknologi

Pelajaran kedua yang dapat dipetik dari Iran adalah pentingnya kemandirian industri strategis. Selama puluhan tahun sanksi, Iran dipaksa mengembangkan kemampuan dalam negeri pada sektor pertahanan, energi, farmasi, teknologi informasi, hingga industri manufaktur. Tekanan eksternal justru mendorong lahirnya budaya inovasi dan substitusi impor.

Indonesia sebenarnya sedang bergerak ke arah yang sama melalui agenda hilirisasi sumber daya alam yang menjadi prioritas nasional. Pemerintah menargetkan peningkatan nilai tambah dari komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, dan mineral kritis lainnya. Langkah ini penting mengingat Indonesia menguasai sekitar 42 persen cadangan nikel dunia yang menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik.

Namun pelajaran dari Iran menunjukkan bahwa hilirisasi saja tidak cukup. Negara tidak boleh berhenti pada pengolahan bahan baku. Tahap berikutnya harus berupa penguasaan teknologi, desain produk, riset material, kecerdasan buatan, semikonduktor, hingga industri berbasis pengetahuan.

Dalam konteks ini, Indonesia perlu memperkuat keterkaitan antara universitas, lembaga penelitian, BUMN, koperasi, dan sektor swasta. Salah satu kelemahan yang masih sering terjadi adalah hasil riset perguruan tinggi yang belum terhubung secara optimal dengan kebutuhan industri nasional.

Iran menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak berinovasi. Sebaliknya, ketergantungan berlebihan terhadap impor justru dapat menjadi ancaman ketika terjadi gejolak geopolitik global.

Ketahanan Sosial dan Ekonomi Rakyat

Pelajaran ketiga yang paling relevan bagi Indonesia adalah pentingnya ketahanan sosial. Banyak negara memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi rapuh ketika menghadapi krisis. Sebaliknya, ada negara yang mampu bertahan karena memiliki fondasi sosial yang kuat.

Dalam konteks Indonesia, salah satu program yang menarik perhatian adalah pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang ditargetkan mencapai sekitar 80.000 unit di seluruh Indonesia. Gagasan dasarnya adalah memperkuat ekonomi akar rumput melalui kelembagaan ekonomi yang dimiliki masyarakat sendiri.

Di sinilah terdapat kemiripan pelajaran dengan pengalaman Iran. Salah satu alasan ketahanan sosial Iran adalah keberadaan jaringan ekonomi lokal, lembaga sosial, dan sistem distribusi yang relatif mampu menjaga kebutuhan dasar masyarakat meskipun menghadapi tekanan eksternal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!