Peduli Lingkungan, Aliansi Lintas Agama-Kementerian LH Serukan Tobat Ekologis Nasional
Sabtu, 13 Juni 2026 - 23:12 WIB
“Keadilan lingkungan tidak lagi dapat dianggap sebagai konsep abstrak atau tujuan yang jauh. Ini adalah masalah keadilan—sosial, ekonomi, dan manusia. Bagi para percaya, ini juga merupakan kewajiban yang lahir dari iman. Sekarang saatnya mengikuti kata-kata dengan tindakan.”
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyambut baik dan mengapresiasi konsistensi Siaga Bumi. Jumhur mengungkapkan, Kementerian LH tengah menyiapkan agenda besar yang dinamakan Pertaubatan Nasional Ekologis.
"Program strategis ini mencakup aksi nyata berskala besar, mulai dari reforestasi melalui penanaman 2 miliar pohon hingga pendataan ketat terhadap industri-industri yang merusak lingkungan," ujarnya.
Jumhur menegaskan di balik tantangan dan ancaman krisis lingkungan yang masif saat ini, terdapat peluang besar yang muncul dari semangat kebersamaan.
“Semua pihak yang beragam—lintas agama, lintas negara, lintas profesi, dan lintas keahlian—kini dapat bersatu karena sama-sama merasa memiliki tanggung jawab moral pada isu lingkungan hidup. Kami di Kementerian LH sangat merasa perlu adanya rekayasa sosial dan persuasi religius untuk mempengaruhi sekaligus mengubah perilaku masyarakat terhadap lingkungan,” lanjutnya.
Kedua belah pihak sepakat bahwa akar masalah utama dari krisis ekologis saat ini adalah persoalan budaya dan gaya hidup. Oleh karena itu, diperlukan sebuah proses pembudayaan baru yang dilakukan secara simultan, baik melalui langkah-langkah cepat yang responsif maupun edukasi secara perlahan dan mendalam.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyambut baik dan mengapresiasi konsistensi Siaga Bumi. Jumhur mengungkapkan, Kementerian LH tengah menyiapkan agenda besar yang dinamakan Pertaubatan Nasional Ekologis.
"Program strategis ini mencakup aksi nyata berskala besar, mulai dari reforestasi melalui penanaman 2 miliar pohon hingga pendataan ketat terhadap industri-industri yang merusak lingkungan," ujarnya.
Jumhur menegaskan di balik tantangan dan ancaman krisis lingkungan yang masif saat ini, terdapat peluang besar yang muncul dari semangat kebersamaan.
“Semua pihak yang beragam—lintas agama, lintas negara, lintas profesi, dan lintas keahlian—kini dapat bersatu karena sama-sama merasa memiliki tanggung jawab moral pada isu lingkungan hidup. Kami di Kementerian LH sangat merasa perlu adanya rekayasa sosial dan persuasi religius untuk mempengaruhi sekaligus mengubah perilaku masyarakat terhadap lingkungan,” lanjutnya.
Kedua belah pihak sepakat bahwa akar masalah utama dari krisis ekologis saat ini adalah persoalan budaya dan gaya hidup. Oleh karena itu, diperlukan sebuah proses pembudayaan baru yang dilakukan secara simultan, baik melalui langkah-langkah cepat yang responsif maupun edukasi secara perlahan dan mendalam.
(cip)
Lihat Juga :