Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas

Selasa, 02 Juni 2026 - 07:08 WIB
Salim, Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doctor Universitas Airlangga. Foto/istimewa
Salim

Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doctor Universitas Airlangga



PERKEMBANGAN lingkungan strategis global pada dekade ketiga abad ke-21 menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase transisi dari tatanan unipolar menuju multipolaritas yang ditandai oleh meningkatnya rivalitas kekuatan besar, fragmentasi geopolitik, serta revolusi teknologi yang mengubah karakter peperangan secara fundamental. Eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan bagian dari kompetisi strategis yang lebih luas yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Ketika pusat gravitasi ekonomi dan politik dunia bergeser ke Asia, rivalitas antara Amerika Serikat dan China semakin memperkuat dinamika konflik yang melibatkan dimensi militer, ekonomi, teknologi, informasi, dan kognitif secara simultan.

Dalam perspektif geopolitik klasik, gagasan Alfred Thayer Mahan mengenai sea power dan penguasaan jalur maritim tetap relevan dalam memahami sengketa di Laut China Selatan. Sementara itu, teori Rimland dari Nicholas Spykman kembali menemukan momentumnya ketika Indo-Pasifik menjadi arena utama perebutan pengaruh global. Krisis Taiwan, sengketa Laut China Selatan, serta potensi konflik proksi di berbagai wilayah strategis, termasuk Papua, menunjukkan bahwa ruang kompetisi tidak lagi terbatas pada medan perang konvensional, melainkan telah merambah ke domain bawah air, permukaan , udara, ruang angkasa, ruang siber, dan dimensi informasi serta persepsi manusia.

Sejalan dengan pemikiran Carl von Clausewitz bahwa perang merupakan kelanjutan politik dengan cara lain, perkembangan teknologi mutakhir telah mengubah instrumen politik dan militer menjadi jauh lebih kompleks. Era Quantum Warfare menghadirkan perlombaan penguasaan quantum computing, quantum communication, dan quantum navigation yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan global.

Pada saat yang sama, Cognitive Warfare muncul sebagai bentuk peperangan generasi baru yang menargetkan pikiran manusia sebagai pusat gravitasi konflik. Dalam konteks ini, Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis sekaligus rentan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di persimpangan kepentingan global, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk tidak menjadi objek pertarungan kekuatan besar, melainkan tampil sebagai kekuatan penyeimbang yang mampu menjaga stabilitas kawasan di tengah konvergensi geopolitik, revolusi teknologi kuantum, dan transformasi perang abad ke-21.

Konstelasi keamanan Indo-Pasifik saat ini memperlihatkan kecenderungan meningkatnya maritime dispute yang menjadi ciri utama persaingan geopolitik abad ke-21. Kemunculan jaringan keamanan regional seperti AUKUS semakin meningkatkan kompleksitas keamanan Indo-Pasifik di tengah transisi menuju era Quantum Warfare. Kerja sama yang mencakup pengembangan kapal selam bertenaga nuklir, kecerdasan buatan, teknologi kuantum, sistem siber, dan kendaraan bawah laut otonom menunjukkan bahwa persaingan kekuatan besar telah memasuki fase baru yang jauh melampaui perlombaan senjata konvensional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!