Kurban, Filantropi, dan Cara Baru Merawat Sesama
Rabu, 27 Mei 2026 - 12:44 WIB
Manusia modern dapat dengan mudah menyaksikan penderitaan orang lain, namun tidak selalu bergerak melakukan sesuatu. Kita melihat begitu banyak, tapi kadang semakin sedikit merasakan. Di titik inilah filantropi menemukan relevansinya.
Filantropi cukup hadir sebagai rasa iba yang datang sesaat lalu pergi. Ia membutuhkan desain, tata kelola, data, dan keberlanjutan. Filsuf Emmanuel Levinas memberi pengingat penting. Menurutnya, tanggung jawab kepada sesama lahir ketika manusia berjumpa dengan “wajah orang lain”, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.
Di hadapan penderitaan sesama, manusia sesungguhnya sedang diuji kemanusiaannya. Filantropi pada akhirnya bukan hanya tentang memberi. Namun tentang keberanian untuk tidak berpaling.
Filsuf Peter Singer melangkah lebih jauh. Menurutnya, membantu sesama tidak cukup berhenti pada niat baik. Kepedulian perlu dirancang agar benar-benar memberi manfaat terbesar bagi mereka yang membutuhkan.
Di sinilah filantropi modern menemukan bentuknya. Bukan sekadar kemurahan hati, juga keberpihakan yang dikelola secara cerdas. Kurban menjadi contoh menarik. Selama ini kita mengenalnya sebagai ritual berbagi daging.
Padahal di dalam tradisi Islam, kurban adalah bagian dari ekosistem filantropi besar bersama zakat, infak, sedekah, wakaf, hingga dam haji. Seluruh instrumen itu memiliki tujuan yang sama: menghadirkan keadilan sosial.
Islam tidak hanya mengajarkan kemurahan hati. Islam mengajarkan bagaimana kepedulian diorganisasi. Sebab itu, mungkin sudah saatnya kita memikirkan kurban dengan cara pandang baru.
Sebagian tetap dibagikan langsung sebagaimana tradisi yang selama ini menghidupkan kegembiraan Iduladha. Tetapi sebagian lain dapat dikelola lebih strategis.
Diolah menjadi kornet, abon, protein siap konsumsi, cadangan bantuan bencana, intervensi daerah rawan pangan. Atau menjadi bagian dari upaya mengatasi stunting.
Masalah gizi Indonesia memang terus membaik. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen, membaik dari 21,5 persen pada tahun sebelumnya. Secara absolut, jumlah balita stunting turun dari sekitar 4,8 juta menjadi 4,4 juta anak.
Capaian ini patut diapresiasi. Tetapi pekerjaan rumah belum selesai. Jutaan anak Indonesia masih menghadapi tantangan tumbuh kembang akibat persoalan gizi. Ketimpangan ekonomi memperberat keadaan.
Kelompok keluarga ekonomi terbawah memiliki risiko stunting jauh lebih tinggi dibanding kelompok ekonomi atas. Padahal protein hewani memiliki peran penting.
Berbagai studi gizi global menunjukkan kecukupan protein hewani membantu pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta mengurangi risiko gagal tumbuh pada anak. Di titik inilah filantropi menemukan makna baru. Bukan sekadar memberi, namun membantu menyelesaikan akar persoalan.
Bayangkan jika distribusi daging kurban tidak hanya bekerja satu hari. Tetapi sepanjang tahun. Bayangkan jika filantropi tidak hanya menyentuh rasa iba. Tetapi ikut membangun masa depan.
Allah SWT berfirman:
Filantropi cukup hadir sebagai rasa iba yang datang sesaat lalu pergi. Ia membutuhkan desain, tata kelola, data, dan keberlanjutan. Filsuf Emmanuel Levinas memberi pengingat penting. Menurutnya, tanggung jawab kepada sesama lahir ketika manusia berjumpa dengan “wajah orang lain”, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.
Di hadapan penderitaan sesama, manusia sesungguhnya sedang diuji kemanusiaannya. Filantropi pada akhirnya bukan hanya tentang memberi. Namun tentang keberanian untuk tidak berpaling.
Filsuf Peter Singer melangkah lebih jauh. Menurutnya, membantu sesama tidak cukup berhenti pada niat baik. Kepedulian perlu dirancang agar benar-benar memberi manfaat terbesar bagi mereka yang membutuhkan.
Di sinilah filantropi modern menemukan bentuknya. Bukan sekadar kemurahan hati, juga keberpihakan yang dikelola secara cerdas. Kurban menjadi contoh menarik. Selama ini kita mengenalnya sebagai ritual berbagi daging.
Padahal di dalam tradisi Islam, kurban adalah bagian dari ekosistem filantropi besar bersama zakat, infak, sedekah, wakaf, hingga dam haji. Seluruh instrumen itu memiliki tujuan yang sama: menghadirkan keadilan sosial.
Islam tidak hanya mengajarkan kemurahan hati. Islam mengajarkan bagaimana kepedulian diorganisasi. Sebab itu, mungkin sudah saatnya kita memikirkan kurban dengan cara pandang baru.
Sebagian tetap dibagikan langsung sebagaimana tradisi yang selama ini menghidupkan kegembiraan Iduladha. Tetapi sebagian lain dapat dikelola lebih strategis.
Diolah menjadi kornet, abon, protein siap konsumsi, cadangan bantuan bencana, intervensi daerah rawan pangan. Atau menjadi bagian dari upaya mengatasi stunting.
Masalah gizi Indonesia memang terus membaik. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen, membaik dari 21,5 persen pada tahun sebelumnya. Secara absolut, jumlah balita stunting turun dari sekitar 4,8 juta menjadi 4,4 juta anak.
Capaian ini patut diapresiasi. Tetapi pekerjaan rumah belum selesai. Jutaan anak Indonesia masih menghadapi tantangan tumbuh kembang akibat persoalan gizi. Ketimpangan ekonomi memperberat keadaan.
Kelompok keluarga ekonomi terbawah memiliki risiko stunting jauh lebih tinggi dibanding kelompok ekonomi atas. Padahal protein hewani memiliki peran penting.
Berbagai studi gizi global menunjukkan kecukupan protein hewani membantu pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta mengurangi risiko gagal tumbuh pada anak. Di titik inilah filantropi menemukan makna baru. Bukan sekadar memberi, namun membantu menyelesaikan akar persoalan.
Bayangkan jika distribusi daging kurban tidak hanya bekerja satu hari. Tetapi sepanjang tahun. Bayangkan jika filantropi tidak hanya menyentuh rasa iba. Tetapi ikut membangun masa depan.
Allah SWT berfirman:
Lihat Juga :