Fenomena Hijrah Digital dan Influencer Agama Harus Diiringi Kedalaman Ilmu

Kamis, 21 Mei 2026 - 17:25 WIB
Menurut Prof Imam, kondisi tersebut membuat otoritas agama ikut mengalami perubahan besar. Jika dulu masyarakat belajar agama melalui pesantren, majelis taklim, atau institusi pendidikan formal, kini banyak orang lebih mudah menjadikan influencer media sosial sebagai rujukan utama.

“Sekarang seseorang bisa dianggap ahli agama karena viral, sering muncul di FYP, atau punya jutaan followers. Padahal otoritas agama seharusnya dibangun dari proses belajar yang panjang, kedalaman ilmu, dan tanggung jawab moral,” ujar pakar antropologi agama ini.

Ia menjelaskan, budaya media sosial yang cepat dan serba singkat membuat masyarakat lebih menyukai potongan video pendek dibanding penjelasan agama yang utuh dan mendalam. Akibatnya, persoalan agama yang sebenarnya kompleks sering dipahami secara instan.

“Jangan sampai agama hanya menjadi konten dan simbol visual semata. Hijrah bukan sekadar perubahan penampilan atau unggahan media sosial, tetapi juga perubahan akhlak, cara berpikir, dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Prof Imam menilai media sosial sebenarnya membuka peluang besar bagi dakwah dan penyebaran pengetahuan agama yang lebih luas. Namun di sisi lain, algoritma media sosial juga berisiko mendorong munculnya konten agama yang sensasional, emosional, bahkan memecah belah karena lebih mudah viral.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!