Fenomena Hijrah Digital dan Influencer Agama Harus Diiringi Kedalaman Ilmu

Kamis, 21 Mei 2026 - 17:25 WIB
Karena itu, ia menekankan pentingnya literasi digital keagamaan agar masyarakat tidak mudah menjadikan popularitas sebagai ukuran utama otoritas agama. “Tidak semua yang viral memiliki dasar ilmu yang kuat. Masyarakat harus kritis dalam memilih sumber belajar agama dan tidak mudah menerima potongan ceramah tanpa memahami konteksnya,” tandasnya. Baca juga:

Menilai Rapor Australia dalam Kebijakan Pelarangan Media Sosial


Sebagai perguruan tinggi Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan narasi keagamaan yang moderat, terbuka, dan relevan dengan generasi digital. “Kampus Islam harus hadir di ruang digital dengan pendekatan yang mencerahkan, mudah dipahami, tetapi tetap memiliki kedalaman ilmu. Ruang digital tidak boleh hanya dipenuhi logika viralitas,” terangnya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi seharusnya menjadi momentum memperluas literasi dan memperkuat nilai-nilai keagamaan yang damai dan inklusif, bukan justru memperdangkal pemahaman masyarakat terhadap agama. “Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana agama tetap menjadi sumber etika, kedamaian, dan kemanusiaan di tengah perubahan dunia digital yang sangat cepat,” pungkasnya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!