Manuver Dua Kaki China di Panggung Global

Senin, 18 Mei 2026 - 19:02 WIB
Dalam ilmu komunikasi politik dan hubungan internasional, Teori Sinyal yang dikembangkan oleh peraih Nobel Ekonomi, Michael Spence, dan diadaptasi dalam studi politik, menjelaskan bagaimana aktor-aktor negara menggunakan tindakan atau pernyataan tertentu untuk mengirimkan informasi kredibel mengenai niat, kemampuan, atau komitmen mereka kepada aktor lain.

Pertemuan antara Xi Jinping dan Vladimir Putin bukanlah sekadar acara seremonial memperingati 25 tahun Perjanjian Persahabatan China-Rusia. Lebih dari itu, ini adalah sinyal strategis yang ditujukan secara spesifik ke Washington dan negara-negara Barat.

Dengan menyambut Putin tepat setelah Trump menyelesaikan lawatannya, Beijing mengirimkan pesan bahwa mereka tidak dapat didikte oleh Amerika Serikat. China secara sadar menyeimbangkan posisinya (strategic hedging). Mereka menginginkan hubungan ekonomi yang stabil dengan AS melalui kesepakatan-kesepakatan dagang Trump, namun di saat yang sama menolak isolasi terhadap Rusia.

Pertemuan ini menjadi panggung bagi China untuk menampilkan diri sebagai aktor sentral yang memegang kendali atas narasi stabilitas global di tengah krisis yang membayangi, seperti konflik di Timur Tengah dan perang di Ukraina.

Pakar komunikasi politik internasional sering kali menyoroti bahwa kunjungan balasan secara langsung ini memperkuat apa yang disebut Joseph Nye sebagai Soft Power (Kekuasaan Lunak) dan Agenda Setting.

Beijing mengontrol narasi media global dengan menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang kuat, baik dengan blok Barat maupun blok anti-Barat, memposisikan China sebagai "jembatan" sekaligus pusat gravitasi diplomasi dunia.

Menavigasi Ketegangan Global
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!