Habis Gelap Terbitlah Terang Digital, Semangat Kartini di Era Siber

Rabu, 22 April 2026 - 14:44 WIB
Perjuangan Kartini yang tertuang dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang adalah manifestasi dari pemikiran kritis yang menembus batas-batas komunikasi tradisional saat itu. Jika kita membedah menggunakan Teori Komunikasi Feminis (Feminist Standpoint Theory), Kartini menyuarakan realitas kehidupan perempuan dari sudut pandang perempuan itu sendiri, bukan dari perspektif laki-laki yang dominan di zaman kolonial.

Di era digital 2026, perjuangan ini berevolusi. Media sosial dan platform digital menjadi ruang baru di mana narasi perempuan harus direbut. Namun, ironisnya, ruang "terang" ini juga membawa sisi gelap. Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) per April 2026 mencatat ada lebih dari 2.000 laporan kekerasan terhadap perempuan di ruang digital setiap tahunnya, dengan mayoritas kasus adalah kekerasan seksual online.

Ini adalah tantangan komunikasi yang serius. Kartini masa kini tidak hanya berjuang melawan pingitan fisik, tetapi "pingitan" algoritma yang memojokkan perempuan pada objektifikasi, serta "teror" siber yang membatasi ruang gerak perempuan di dunia maya.

Mari kita lihat contoh kasus yang ramai menjelang 21 April 2026: peningkatan drastis kekerasan berbasis gender online (KBGO) yang menargetkan profesional perempuan dan jurnalis perempuan. Meskipun partisipasi perempuan dalam ekonomi digital meningkat, dengan 64,5% pelaku UMKM adalah perempuan, mereka rentan terhadap ancaman digital.

Contoh spesifik lainnya, kasus objektifikasi perempuan di lingkungan kampus, seperti yang sempat memicu perdebatan di Fakultas Hukum salah satu universitas negeri pada April 2026, menunjukkan bahwa perjuangan Kartini melawan pemikiran bahwa perempuan hanyalah objek, masih belum usai.

Teori Agenda Setting dapat diterapkan di sini. Media digital dan media arus utama kini berperan penting dalam menentukan isu apa yang dianggap penting. Jika media hanya menyoroti sisi "cantik" Kartini, namun abai terhadap kasus kekerasan digital, maka agenda setting kesetaraan gender akan gagal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!