Analis Konflik dan Keamanan: Pernyataan JK Tak Perlu Disikapi Defensif dan Emosional
Senin, 13 April 2026 - 15:09 WIB
Baca juga: Jusuf Kalla Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Jubirnya Buka Suara
"Beliau lebih menyoroti manifestasi rasa tidak puas (grievance) yang tampak dalam tindakan kelompok-kelompok yang berkonflik di lapangan," katanya.
Kedua, refleksi kausalitas konflik. Alto menilai, JK tidak sedang mereduksi akar permasalahan konflik menjadi sekadar perintah kekerasan atas nama agama. Sebaliknya, narasi tersebut merupakan bahan refleksi kolektif mengenai bagaimana sentimen agama dapat dieksploitasi dalam ruang konflik.
Ketiga, urgensi resiliensi iman. Menurut Alto, di tengah dinamika global saat simbol-simbol agama sering kali dipolitisasi dalam konflik bersenjata dan diamplifikasi secara vulgar melalui media sosial, penguatan resiliensi iman menjadi kebutuhan yang mendesak.
"Pada akhirnya, esensi dari pernyataan Jusuf Kalla adalah penegasan bahwa harmonisasi kehidupan beragama di Indonesia hanya dapat terwujud apabila para pemeluk agama memiliki resiliensi iman yang kokoh. Kemampuan untuk tidak mudah terprovokasi oleh manipulasi identitas adalah kunci dalam menjaga stabilitas keamanan nasional di masa depan," tegasnya.
"Beliau lebih menyoroti manifestasi rasa tidak puas (grievance) yang tampak dalam tindakan kelompok-kelompok yang berkonflik di lapangan," katanya.
Kedua, refleksi kausalitas konflik. Alto menilai, JK tidak sedang mereduksi akar permasalahan konflik menjadi sekadar perintah kekerasan atas nama agama. Sebaliknya, narasi tersebut merupakan bahan refleksi kolektif mengenai bagaimana sentimen agama dapat dieksploitasi dalam ruang konflik.
Ketiga, urgensi resiliensi iman. Menurut Alto, di tengah dinamika global saat simbol-simbol agama sering kali dipolitisasi dalam konflik bersenjata dan diamplifikasi secara vulgar melalui media sosial, penguatan resiliensi iman menjadi kebutuhan yang mendesak.
"Pada akhirnya, esensi dari pernyataan Jusuf Kalla adalah penegasan bahwa harmonisasi kehidupan beragama di Indonesia hanya dapat terwujud apabila para pemeluk agama memiliki resiliensi iman yang kokoh. Kemampuan untuk tidak mudah terprovokasi oleh manipulasi identitas adalah kunci dalam menjaga stabilitas keamanan nasional di masa depan," tegasnya.
(shf)
Lihat Juga :