Kewirausahaan Mikro dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan

Minggu, 05 April 2026 - 16:00 WIB
Tujuan dasarnya adalah untuk memberikan kredit tanpa agunan kepada orang miskin termasuk perempuan di dalamnya. Uang tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka dan mendirikan usaha mikro. Sebanyak 10-20 anggota diizinkan untuk membentuk kelompok. Mereka membentuk kelompok berdasarkan rasa saling percaya satu sama lain.

Sejumlah studi mengenai dampak keberadaan SHG terhadap pemberdayaan perempuan memperlihatkan hasil yang beraneka ragam. Ada yang memberikan dampak positif, namun tidak sedikit yang tidak memberikan dampak signifikan. Struktur sosial tidak mudah diubah hanya dengan memberikan bantuan finansial.

Pendekatan berbeda terlihat di Maroko. Di negara ini, pendirian koperasi perempuan menjadi salah satu strategi utama pemberdayaan. Menurut The National Cooperation Development Office, terdapat lebih dari 1.500 koperasi perempuan yang tersebar di 74 provinsi dengan rata-rata 20 koperasi per provinsi (ODCO, 2022).

Usia rata-rata koperasi ini adalah enam tahun, yang menunjukkan bahwa bentuk kewirausahaan perempuan ini merupakan fenomena yang relatif baru di negara tersebut. Setiap koperasi dimiliki dan dijalankan rata-rata oleh 18 anggota.

Bidang usaha koperasi ini meliputi dua hal utama yaitu, pertanian dan kerajinan tangan. Sekitar 35% koperasi perempuan Maroko beroperasi di bidang pertanian termasuk bercocok tanam, peternakan kelinci, pemeliharaan lebah, dan unggas, sementara sekitar 39% beroperasi dalam kegiatan kerajinan tangan seperti tekstil, bordir, dan menjahit.

Sejumlah pihak mengakui bahwa koperasi perempuan di Maroko masih mengalami beragam kendala termasuk diskriminasi gender sistematis terhadap perempuan, kesulitan mengakses sumber daya keuangan utama, dan kurangnya modal manusia yang berkualitas dengan keterampilan teknis dan kewirausahaan yang diperlukan.

Indonesia: Peluang dan Pekerjaan Rumah



Bagaimana dengan Indonesia? Pengamatan di berbagai daerah menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan melalui kewirausahaan mikro memperlihatkan perkembangan yang cukup menjanjikan. Program pembiayaan mikro, pelatihan kewirausahaan, serta dukungan komunitas telah memberikan dampak positif terhadap kemandirian ekonomi perempuan.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Peran tradisional perempuan sebagai pengelola rumah tangga masih sering membatasi waktu dan ruang mereka untuk mengembangkan usaha. Selain itu, banyak program pemberdayaan yang bersifat jangka pendek—hangat di awal, namun perlahan memudar tanpa keberlanjutan yang jelas.

Karena itu, upaya pemberdayaan perempuan melalui kewirausahaan tidak dapat berhenti pada pemberian modal atau pelatihan sesaat. Dibutuhkan program yang berkelanjutan, perubahan perspektif sosial, serta kebijakan yang benar-benar sensitif gender.

Program yang tak cuma “hangat” sesaat lalu pudar, masih menjadi “PR” bagi pihak-pihak yang memberikan perhatian besar bagi gerakan pemberdayaan perempuan ini.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!