Lebaran 2026 Berpotensi Beda? MUI Imbau Masyarakat Tunggu Sidang Isbat
Kamis, 19 Maret 2026 - 07:11 WIB
"Kondisi paling tinggi berada di Aceh karena wilayah yang posisi hilalnya paling baik di Indonesia adalah Aceh, dengan tinggi hilal sekitar 2°51' dan elongasi sekitar 6°09'," kata Kiai Cholil dalam keterangan tertulisnya, dikutip Kamis (19/3/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan, hal tersebut menandakan bulan memang sudah berada di atas ufuk dan jaraknya dari matahari juga sudah mulai terbuka. "Sehingga secara teori ada kemungkinan untuk terlihat, tetapi kondisinya masih sangat tipis," katanya.
Lebih lanjut, Kiai Cholil menjelaskan, saat ini di Indonesia menggunakan imkanur rukyat MABIMS, yakni standar penentuan awal bulan Hijriyah baru yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Dalam kriteria imkanur rukyah MABIMS, minimal tinggi hilal 3° dan elongasi 6,4° agar secara ilmiah dianggap memungkinkan terlihat. Sementara di Aceh, hasil hisab menunjukkan tinggi 2,51° dan elongasi 6,09°, sehingga masih sedikit di bawah kriteria tersebut.
"Karena selisihnya sangat kecil, para perukyat tetap melakukan pengamatan, tetapi kemungkinan terlihatnya masih sangat tipis," tegasnya.
Dengan demikian secara hisab, Kiai Cholil menerangkan, hilal sudah berada di atas ufuk, tetapi hampir di seluruh Indonesia masih rendah. Bahkan, di Aceh yang paling tinggi pun masih sedikit di bawah batas kriteria imkanur rukyah.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menerangkan, hal tersebut menandakan bulan memang sudah berada di atas ufuk dan jaraknya dari matahari juga sudah mulai terbuka. "Sehingga secara teori ada kemungkinan untuk terlihat, tetapi kondisinya masih sangat tipis," katanya.
Lebih lanjut, Kiai Cholil menjelaskan, saat ini di Indonesia menggunakan imkanur rukyat MABIMS, yakni standar penentuan awal bulan Hijriyah baru yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Dalam kriteria imkanur rukyah MABIMS, minimal tinggi hilal 3° dan elongasi 6,4° agar secara ilmiah dianggap memungkinkan terlihat. Sementara di Aceh, hasil hisab menunjukkan tinggi 2,51° dan elongasi 6,09°, sehingga masih sedikit di bawah kriteria tersebut.
"Karena selisihnya sangat kecil, para perukyat tetap melakukan pengamatan, tetapi kemungkinan terlihatnya masih sangat tipis," tegasnya.
Dengan demikian secara hisab, Kiai Cholil menerangkan, hilal sudah berada di atas ufuk, tetapi hampir di seluruh Indonesia masih rendah. Bahkan, di Aceh yang paling tinggi pun masih sedikit di bawah batas kriteria imkanur rukyah.
Lihat Juga :