Ramadan dan Pembersihan Jiwa Bangsa

Sabtu, 07 Maret 2026 - 13:24 WIB
Seperti disampaikan oleh Bung Hatta bahwa, “Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani dan rohani”.

Ramadan adalah momentum para pemimpin untuk berbenah. Dengan spirit Ramadan, pembenahan harus dimulai dari kesadaran bahwa setiap warga negara menginginkan kebahagiaannya masing-masing. Dalam pandangan Miskawayh, ada tiga tangga kebahagiaan yang khas pada diri manusia.

Pertama, kebahagiaan jasmani (as-sa’adat-u fi al-badan-i), yakni bagaimana negara memastikan setiap warganya memiliki kecukupan gizi, tubuh yang fit, dan tinggal di lingkungan yang baik dan sehat pula.

Kedua, kebahagiaan yang berada di luar tubuh manusia (as-sa’adat-u fi harij-I al-badani), seperti harta benda, pangkat atau jabatan, dan pengaruh sosial. Dalam konteks ini, negara harus menyiapkan aturan main yang jujur, adil, dan dapat dipercaya agar kebahagiaan di level komunitas bisa diperoleh secara kolektif. Hadirnya aturan main ini juga memberikan jaminan dan peluang yang sama kepada setiap warga negara untuk mengambil peran di ruang-ruang publik.

Ketiga, kebahagiaan jiwa yang rasional atau intelektual (as-sa’adat-u al-quswa). Pada level kebahagiaan ini, seseorang memiliki kecakapan dalam berpikir logis dan tidak mudah termakan hoaks. Caranya bersikap terhadap realitas di sekelilingnya dipandu oleh akal budi dan tercermin di dalam perilakunya yang baik dan mulia. Pertanyaannya, bagaimana seorang pemimpin mesti mengambil peran di tengah beraneka ragamnya level kebahagiaan yang ingin diraih oleh setiap warganya?

Prasyarat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk mengawali ikhtiar membersihkan jiwa bangsa adalah ia harus menempatkan diri di atas kepentingan negaranya. Tidak memihak kepada kepentingan keluarga maupun partai politik pengusungnya.

Kedua, seorang pemimpin harus memfokuskan perhatiannya kepada upaya peningkatan layanan publik, khususnya pendidikan dan kesehatan. Upaya ini bisa dimulai melalui penyediaan sistem jaminan sosial yang bisa diakses luas, fasilitas pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, tenaga pendidik dan kesehatan yang memiliki kualifikasi baik, dan penegak hukum yang jujur dan adil.

Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar ritual ibadah individu, melainkan momen revolusioner untuk membersihkan jiwa dari praktek membangun bangsa yang tidak disiplin dalam mengelola anggaran negara, ketidakadilan dalam pengelolaan sumber daya alam yang bisa berujung pada terkikisnya rasa persatuan, dan kendornya semangat perjuangan melawan penjajahan modern.

Inilah jalan pembersihan jiwa yang mesti dilakoni oleh para pemimpin dan segenap elemen bangsa ini untuk menapaktilasi spirit Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan hari ke-9 bulan suci Ramadan 1364 Hijriah.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!