Saatnya Bergeser dari Narasi Hilirisasi ke Reindustrialisasi

Senin, 16 Februari 2026 - 13:34 WIB
Sebagai contoh, ekosistem atau klaster industri perikanan laut dapat dipusatkan di Maluku yang selama ini memiliki comparative adventage dalam produk perikanan laut. Harapannya, Indonesia membangun satu merek dagang di bidang perikanan laut yang memiliki keunggulan bersaing di pasar ekspor.

Sementara klaster industri karet alam dapat dipusatkan di Sumatera Selatan (Sumsel). Selama ini, Sumsel adalah daerah dengan lahan karet alam terbesar di Indonesia. Tujuannya, agar Indonesia memiliki produk turunan dari karet alam, seperti sarung tangan latex dan nitrile yang selama ini dikuasai oleh Top Glove Corporation Berhard, Malaysia.

Langkah kedua, peningkatan efisiensi dan produktifitas industri terbaru tidak lagi bergantung pada pengembangan teknologi baru yang bersifat eksogen. Industrialisasi paling mutakhir ditentukan oleh faktor-faktor yang bersifat endogen, yaitu seberapa cepat suatu negara mengabsorbsi teknologi baru dari negara maju melalui foreign direct investment (FDI).

Aliran FDI membutuhkan perbaikan dalam efisiensi dan produktifitas nasional. Sehingga salah satu agenda prioritas nasional adalah melakukan reformasi struktural untuk menurunkan nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dari sangat tidak efisien, sebesar 6,25 – 6,50 tahun 2025 menjadi setara dengan rata-rata ICOR negara ASEAN sekitar 3,5 – 4,0.

Langkah ketiga, mendongkrak The Economic Complexity Index (ECI) untuk meningkatkan produktifitas pengetahun dan SDM yang tercermin pada diversifikasi dan sopistikasi produk-produk ekspor nasional. Faktanya, dalam 26 tahun terakhir, sejak awal tahun 2000-an, peringkat ECI Indonesia justru semakin buruk, dari peringkat 49 tahun 2000 menjadi 72 tahun 2023.

Hal ini, mencerminkan bahwa produk ekspor Indonesia semakin bergantung pada hasil eksploitasi SDA non olahan bernilai tambah rendah. Kondisi ini sejalan dengan peran sektor manufaktur dalam pembentukan GDP Indonesia yang menurun dari 32 persen tahun 2000 menjadi 18,98 persen.

Langkah keempat, agenda strategis mendesak bagi Sovereign Wealth Fund Danantara (SWFD) adalah berinvestasi membangun aglomerasi industri berbasis komoditas unggulan di daerah. Langkah teknisnya, mengaktifkan kembali kawasan industri di daerah yang selama ini hanya menjadi kawasan pergudangan minus pengolahan.

Pilihan kebijakannya adalah mendorong pengembangan industri berbasis SDA dengan medium-technology industry di luar pulau Jawa dan high-tech industry yang membutuhkan tenaga kerja terampil, dukungan lembaga pelatihan, riset dan pengembangan dibangun di pulau Jawa.

Akhirnya, menggeser narasi hilirisasi menjadi narasi reindustrialisasi akan membantu keluar dari fenomena “5 percent growth trap”. Untuk itu, sebagai penutup, ada baiknya merujuk fisikawan, Albert Einstein bahwa “insanity is doing the same thing over and over again and expecting the different result”. Ibarat mobil, saatnya berpindah dari “gigi tiga ke gigi enam”, mengubah cara berpikir dan bertindak menuju status negara maju tahun 2045.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!