Muktamar ke-35 NU, KH Ma'ruf Amin-Abdussalam Dinilai Bisa Kembalikan Jati Diri NU
Kamis, 05 Februari 2026 - 19:20 WIB
Progresvitas Gus Salam di NU terbentuk dari genetika darah pejuang dan pendiri NU. Ditempa di lingkungan pesantren, namun suka bergumul dengan para praktisi berbagai disiplin ilmu. Sehingga, pribadinya matang, terasah oleh pergaulan semua lapisan sosial, dari kalangan bawah hingga para tokoh-tokoh nasional.
“Gus Salam dan Gus Dur adalah sepupu adik-kakak dari gen keturunan Mbah Bishri Syansuri. Pribadinya unik dan kharismatik sebagai tokoh kiai muda yang energik, menyukai keilmuan dan kajian fiqh, namun selalu update pertandingan sepak bola dunia, terutama liga Eropa dan Amerika,” katanya.
Saat menjadi wakil ketua PWNU Jawa Timur, Gus Salam adalah inisiator, konseptor dan penggerak prioritas Program Panca Gerak berbasis inisiatif, kreativitas dan inovasi nahdliyyin di Jawa Timur. Gus Salam meyakini jiwa ‘nahdloh (bangkit)’ telah tertanam di warga jama’ah NU, hanya perlu difasilitasi, diorganisir, dikelola, dan diarahkan lebih efektif agar terbentuk kemandirian jama’ah, dan berdampak pada kemandirian jam’iyyah.
Panca Gerak itu memprioritaskan; pengkaderan dan pendataan berbasis IT serta pendidikan berkualitas di lingkungan LP Ma’arif dan beasiswa santri bermitra dengan banyak perguruan tinggi. Kemandirian ekonomi jama’ah terikat jam’iyyah dijalankan salah satunya dengan perluasan KSPPS BMT NU di semua cabang dan BPRS untuk menopang sirkulasi ekonomi warga NU.
Di bidang kesehatan dan kesejahteraan, mendorong berdirinya rumah sakit-rumah sakit NU dengan memfasilitasi pendirian klinik pratama berbasis komunitas maupun pesantren sebagai satelit rumah sakit NU. Serta, menggerakkan literasi dan dakwah berbasis IT sebagai wahana edukasi, promosi dan sosialisasi.
"Rekam jejak Prof. KH Ma’ruf Amin dan KH Abdussalam Shohib telah memenuhi kompetensi, kualifikasi dan spesifikasi sebagai pemimpin PBNU yang dibutuhkan untuk mengembalikan NU pada jati diri jam’iyyah, tujuan dan misi pendiriannya, serta pengembangan peran organisasi untuk menjawab tantangan jaman," tuturnya.
“Gus Salam dan Gus Dur adalah sepupu adik-kakak dari gen keturunan Mbah Bishri Syansuri. Pribadinya unik dan kharismatik sebagai tokoh kiai muda yang energik, menyukai keilmuan dan kajian fiqh, namun selalu update pertandingan sepak bola dunia, terutama liga Eropa dan Amerika,” katanya.
Saat menjadi wakil ketua PWNU Jawa Timur, Gus Salam adalah inisiator, konseptor dan penggerak prioritas Program Panca Gerak berbasis inisiatif, kreativitas dan inovasi nahdliyyin di Jawa Timur. Gus Salam meyakini jiwa ‘nahdloh (bangkit)’ telah tertanam di warga jama’ah NU, hanya perlu difasilitasi, diorganisir, dikelola, dan diarahkan lebih efektif agar terbentuk kemandirian jama’ah, dan berdampak pada kemandirian jam’iyyah.
Panca Gerak itu memprioritaskan; pengkaderan dan pendataan berbasis IT serta pendidikan berkualitas di lingkungan LP Ma’arif dan beasiswa santri bermitra dengan banyak perguruan tinggi. Kemandirian ekonomi jama’ah terikat jam’iyyah dijalankan salah satunya dengan perluasan KSPPS BMT NU di semua cabang dan BPRS untuk menopang sirkulasi ekonomi warga NU.
Di bidang kesehatan dan kesejahteraan, mendorong berdirinya rumah sakit-rumah sakit NU dengan memfasilitasi pendirian klinik pratama berbasis komunitas maupun pesantren sebagai satelit rumah sakit NU. Serta, menggerakkan literasi dan dakwah berbasis IT sebagai wahana edukasi, promosi dan sosialisasi.
"Rekam jejak Prof. KH Ma’ruf Amin dan KH Abdussalam Shohib telah memenuhi kompetensi, kualifikasi dan spesifikasi sebagai pemimpin PBNU yang dibutuhkan untuk mengembalikan NU pada jati diri jam’iyyah, tujuan dan misi pendiriannya, serta pengembangan peran organisasi untuk menjawab tantangan jaman," tuturnya.
(cip)
Lihat Juga :