Peluncuran Buku The Man Who Said Yes, Mengubah Ketidakpastian Menjadi Kesuksesan
Selasa, 27 Januari 2026 - 14:00 WIB
Ia menambahkan kata YES telah menjadi prinsip yang membimbing setiap langkah perjalanannya. “Bagi saya, kata YES dapat menjadi tiket masuk menuju level kehidupan berikutnya,” ujarnya.
Perjalanan hidup Jiu Kian sendiri jauh dari kata mudah. Dalam buku ini, ia secara gamblang mengisahkan masa kecilnya yang sederhana, ketika ia sudah terbiasa bekerja sejak duduk di bangku sekolah dasar dengan berjualan es mambo. Setelah itu, ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik batu bata, sebelum akhirnya merantau ke Pulau Jawa dengan keterbatasan dan ketidakpastian yang besar.
Berbagai pekerjaan pernah ia jalani demi kelangsungan hidup, mulai dari bekerja di toko kelontong, menjadi kuli panggul di pasar, hingga menjaga toko di pusat perbelanjaan. Ia mengakui bahwa tidak sedikit momen di mana rasa malu, takut gagal, dan kelelahan mental datang silih berganti.
Namun di setiap fase tersebut, terdapat satu benang merah yang selalu ia pegang, yaitu keberanian untuk mengatakan YES terhadap kesempatan yang datang, sekecil apa pun peluang itu. Salah satu pengalaman yang paling ia kenang adalah ketika pertama kali menawarkan produk asuransi secara langsung dari rumah ke rumah, berjalan kaki sambil menghadapi penolakan demi penolakan.
“Kalau saat itu saya memilih berkata tidak karena malu atau takut ditolak, mungkin cerita hidup saya akan berhenti di situ,” ungkapnya.
Tidak hanya berisi kisah perjalanan personal, buku The Man Who Said Yes juga ditulis sebagai panduan reflektif yang dapat diterapkan oleh para pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Jiu Kian merangkum pembelajarannya ke dalam sebuah kerangka berpikir yang ia sebut sebagai filosofi 368, yang merepresentasikan tiga fase kehidupan, enam prinsip abadi, dan delapan kunci kesuksesan.
Perjalanan hidup Jiu Kian sendiri jauh dari kata mudah. Dalam buku ini, ia secara gamblang mengisahkan masa kecilnya yang sederhana, ketika ia sudah terbiasa bekerja sejak duduk di bangku sekolah dasar dengan berjualan es mambo. Setelah itu, ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik batu bata, sebelum akhirnya merantau ke Pulau Jawa dengan keterbatasan dan ketidakpastian yang besar.
Berbagai pekerjaan pernah ia jalani demi kelangsungan hidup, mulai dari bekerja di toko kelontong, menjadi kuli panggul di pasar, hingga menjaga toko di pusat perbelanjaan. Ia mengakui bahwa tidak sedikit momen di mana rasa malu, takut gagal, dan kelelahan mental datang silih berganti.
Namun di setiap fase tersebut, terdapat satu benang merah yang selalu ia pegang, yaitu keberanian untuk mengatakan YES terhadap kesempatan yang datang, sekecil apa pun peluang itu. Salah satu pengalaman yang paling ia kenang adalah ketika pertama kali menawarkan produk asuransi secara langsung dari rumah ke rumah, berjalan kaki sambil menghadapi penolakan demi penolakan.
“Kalau saat itu saya memilih berkata tidak karena malu atau takut ditolak, mungkin cerita hidup saya akan berhenti di situ,” ungkapnya.
Tidak hanya berisi kisah perjalanan personal, buku The Man Who Said Yes juga ditulis sebagai panduan reflektif yang dapat diterapkan oleh para pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Jiu Kian merangkum pembelajarannya ke dalam sebuah kerangka berpikir yang ia sebut sebagai filosofi 368, yang merepresentasikan tiga fase kehidupan, enam prinsip abadi, dan delapan kunci kesuksesan.
Lihat Juga :