Marketing di Zona Merah: Ikhtiar UMKM Bertahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Senin, 26 Januari 2026 - 14:50 WIB
Rizka Fajrina S, Ketua Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Darunnajah. Foto/Dok. SindoNews
Rizka Fajrina S

Ketua Program Studi Administrasi Bisnis



Universitas Darunnajah

BAGI banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), situasi ekonomi hari ini terasa seperti berjalan di lorong sempit yang gelap. Setiap keputusan usaha membawa risiko, sementara ruang untuk salah semakin kecil. Kenaikan harga bahan baku, daya beli masyarakat yang melemah, serta ketidakpastian global membuat UMKM harus beroperasi dalam kondisi yang dapat disebut sebagai “zona merah” ekonomi.

Dalam kondisi tersebut, UMKM tidak hanya berjuang untuk berkembang, tetapi terlebih dahulu untuk bertahan. Banyak pelaku usaha yang terpaksa mengencangkan ikat pinggang, mengurangi produksi, bahkan menutup sebagian lini usaha. Di tengah tekanan itu, pemasaran tidak lagi sekadar alat promosi, melainkan menjadi penentu apakah sebuah usaha masih bisa bernapas atau tidak.

Selama ini, pemasaran kerap dipahami secara sempit sebagai aktivitas menjual produk. Padahal, dalam situasi krisis, pemasaran sejatinya adalah cara UMKM membaca perubahan dan meresponsnya secara bijak. Ia menjadi ruang refleksi antara apa yang diinginkan pasar dan apa yang mampu dilakukan oleh pelaku usaha.

Perubahan perilaku konsumen menjadi tantangan nyata yang tidak bisa dihindari. Konsumen kini jauh lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Mereka membandingkan harga, menimbang manfaat, dan semakin sensitif terhadap kualitas layanan. UMKM yang gagal memahami perubahan ini perlahan akan tersisih, meskipun produknya tidak kalah bersaing.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!