Pemimpin Muda Singapura dan Indonesia Perkuat Hubungan Kohesi Sosial
Kamis, 22 Januari 2026 - 12:45 WIB
- Praktik Keharmonian Antaragama
Kunjungan ke galeri edukasi publik Harmony in Diversity Gallery yang menampilkan pendekatan multiagama Singapura dalam membangun budaya saling memahami dan harmoni antarumat beragama.
- Bercerita untuk Dialog Inklusif
Lokakarya berbasis pengalaman yang difasilitasi oleh perusahaan sosial kreatif dan platform penceritaan The Black Sampan, yang menunjukkan bagaimana cerita digital, makanan, dan budaya dapat menjadi sarana membangun percakapan yang inklusif.
Para peserta juga mengikuti diskusi panel yang membahas dasar-dasar kohesi sosial dari perspektif generasi muda serta pendekatan dalam menumbuhkan kepemimpinan pemuda yang inklusif di masa depan. Melalui diskusi yang difasilitasi, peserta mengeksplorasi solusi praktis atas berbagai tantangan sosial yang dihadapi di komunitas dan ekosistem masing-masing.
Dirancang sebagai pengalaman belajar kolaboratif, program yang berlangsung di Singapura ini memungkinkan peserta dari Singapura dan Indonesia untuk bertukar pandangan mengenai isu sosial yang dihadapi bersama. Hal ini mendorong terbangunnya sikap saling memahami, refleksi kritis, serta hubungan antarmasyarakat yang bermakna.
“Berinteraksi langsung dengan berbagai inisiatif komunitas bersama rekan-rekan dari Indonesia membuat saya berhenti sejenak dan merenungkan lebih dalam makna membangun kepercayaan dan pemahaman lintas perbedaan. Mendengarkan cerita dari teman-teman Indonesia juga mengingatkan saya bahwa meskipun konteks kita berbeda, tantangan terkait inklusi dan saling memahami bersifat universal ini adalah perjalanan yang dimulai dari empati dan berlanjut dengan aksi,” ujar Amalina Binte Abdul Nasir, Wakil Presiden MENDAKI Club, peserta asal Singapura.
“Apa yang kami alami di sini bukanlah proses pembelajaran satu arah melainkan refleksi dan dialog bersama. Program ini memberi kami kesempatan untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing dan melihat bagaimana berbagai pendekatan dapat diterapkan dalam masyarakat yang beragam. Ini bukan sekadar dialog, tetapi membangun koneksi nyata dan mencari cara untuk bersama-sama menciptakan komunitas inklusif,” kata Budy Sugandi, Direktur Buperta Pramuka, peserta asal Indonesia.
Para peserta juga merefleksikan pengalaman pembelajaran yang secara khusus memperdalam pemahaman antarbudaya dan antaragama.
Kunjungan ke galeri edukasi publik Harmony in Diversity Gallery yang menampilkan pendekatan multiagama Singapura dalam membangun budaya saling memahami dan harmoni antarumat beragama.
- Bercerita untuk Dialog Inklusif
Lokakarya berbasis pengalaman yang difasilitasi oleh perusahaan sosial kreatif dan platform penceritaan The Black Sampan, yang menunjukkan bagaimana cerita digital, makanan, dan budaya dapat menjadi sarana membangun percakapan yang inklusif.
Para peserta juga mengikuti diskusi panel yang membahas dasar-dasar kohesi sosial dari perspektif generasi muda serta pendekatan dalam menumbuhkan kepemimpinan pemuda yang inklusif di masa depan. Melalui diskusi yang difasilitasi, peserta mengeksplorasi solusi praktis atas berbagai tantangan sosial yang dihadapi di komunitas dan ekosistem masing-masing.
Dirancang sebagai pengalaman belajar kolaboratif, program yang berlangsung di Singapura ini memungkinkan peserta dari Singapura dan Indonesia untuk bertukar pandangan mengenai isu sosial yang dihadapi bersama. Hal ini mendorong terbangunnya sikap saling memahami, refleksi kritis, serta hubungan antarmasyarakat yang bermakna.
“Berinteraksi langsung dengan berbagai inisiatif komunitas bersama rekan-rekan dari Indonesia membuat saya berhenti sejenak dan merenungkan lebih dalam makna membangun kepercayaan dan pemahaman lintas perbedaan. Mendengarkan cerita dari teman-teman Indonesia juga mengingatkan saya bahwa meskipun konteks kita berbeda, tantangan terkait inklusi dan saling memahami bersifat universal ini adalah perjalanan yang dimulai dari empati dan berlanjut dengan aksi,” ujar Amalina Binte Abdul Nasir, Wakil Presiden MENDAKI Club, peserta asal Singapura.
“Apa yang kami alami di sini bukanlah proses pembelajaran satu arah melainkan refleksi dan dialog bersama. Program ini memberi kami kesempatan untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing dan melihat bagaimana berbagai pendekatan dapat diterapkan dalam masyarakat yang beragam. Ini bukan sekadar dialog, tetapi membangun koneksi nyata dan mencari cara untuk bersama-sama menciptakan komunitas inklusif,” kata Budy Sugandi, Direktur Buperta Pramuka, peserta asal Indonesia.
Para peserta juga merefleksikan pengalaman pembelajaran yang secara khusus memperdalam pemahaman antarbudaya dan antaragama.
Lihat Juga :