Menuju Status Negara Maju di Tengah Ketidakpastian Global
Selasa, 20 Januari 2026 - 12:45 WIB
Terdapat dua langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk keluar dari perangkap pertumbuhan 5,0 persen, sekaligus memitigasi risiko ketidakpastian global dan risko fiskal, yaitu: langkah pertama, meningkatkan efisiensi perekonomian nasional dengan menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dari 6,3 saat ini menjadi 4,5 tahun 2030 dan 3,0 tahun 2045.
Langkah ini akan membantu mewujudkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 9,0 persen per tahun hingga tahun 2045. Hal ini didukung oleh realisasi investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA), pada tahun 2030 sekitar 40,50 persen GDP, dengan ICOR 4,5 dan 27,0 persen GDP dengan ICOR 3,0 tahun 2045.
Melanjutkan proses transformasi ekonomi nasional sehingga pada tahun 2030 nilai ICOR turun menjadi 4,5 sehingga kebutuhan investasi menjadi hanya 948,199 milyar dollar AS untuk mencapai pertumbuhan 9,0 persen. Hal ini lebih kecil dibandingkan kebutuhan investasi sebesar 1,325 trilyun dollar AS untuk mencapai pertumbuhan 9,0 persen dengan ICOR sebesar 6,3.
Tujuannya, mewujudkan GDP riil sebesar 2,341 trilyun dollar AS dengan pendapatam per kapita 7.552,361dollar AS tahun 2030. Dan selanjutnya, pada tahun 2045, GDP riil dan GDP per kapita setara negara maju, yaitu GDP riil sebesar 8,528 trilyun dollar AS dengan pendapatan per kapita 26.320,665 dollar AS tahun 2045.
Langkah kedua, status negara maju tidak cukup hanya berdasarkan GDP per kapita tetapi juga dapat dilihat pada The Economic Complexity Index (ECI). ECI mengukur produktifitas pengetahun yang tercermin pada diversifikasi dan sopistikasi produk-produk ekspor suatu negara. Di mana, dalam 26 tahun terakhir, sejak tahun 2000, peringkat ECI Indonesia justru semakin buruk, dari peringkat 49 tahun 2000 menjadi 72 tahun 2023.
Hal ini, mencerminkan bahwa produk ekspor Indonesia semakin bergantung pada hasil eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) non olahan bernilai tambah rendah. Kondisi ini sejalan dengan peran sektor manufaktur dalam pembentukan GDP Indonesia yang menurun dari 32 persen tahun 2000 menjadi hanya 18,98 persen.
Sebaliknya dengan Vietnam yang mencatat rekor pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 8,02 persen secara global tahun 2025, mengalami kenaikan peringkat ECI dari 86 tahun 2000 menjadi 48 tahun 2023. Hal ini, mencerminkan bahwa ekspor Vietnam semakin bergeser dari labor-intensive industry ke medium to high-tech industry, seperti produk elektronik dan digital.
Mengakselerasi pengembangan integrated industrial estate berbasis komoditi unggulan di setiap propinsi. Di mana, industri berbasis SDA dengan medium-technology based industry dipusatkan di luar pulau Jawa dan high-tech industry yang membutuhkan tenaga kerja terampil, dukungan lembaga pelatihan, riset dan pengembangan dibangun di pulau Jawa.
Akhirnya, kembali ke taklimat presiden Prabowo Subianto kepada para guru besar yang mengutip fisikawan, Albert Einstein bahwa “insanity is doing the same thing over and over again and expecting the different result”. Ibarat mobil, saatnya kita berpindah dari “gigi tiga ke gigi lima”, mengubah cara berpikir dan bertindak menuju status negara maju tahun 2045.
Langkah ini akan membantu mewujudkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 9,0 persen per tahun hingga tahun 2045. Hal ini didukung oleh realisasi investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA), pada tahun 2030 sekitar 40,50 persen GDP, dengan ICOR 4,5 dan 27,0 persen GDP dengan ICOR 3,0 tahun 2045.
Melanjutkan proses transformasi ekonomi nasional sehingga pada tahun 2030 nilai ICOR turun menjadi 4,5 sehingga kebutuhan investasi menjadi hanya 948,199 milyar dollar AS untuk mencapai pertumbuhan 9,0 persen. Hal ini lebih kecil dibandingkan kebutuhan investasi sebesar 1,325 trilyun dollar AS untuk mencapai pertumbuhan 9,0 persen dengan ICOR sebesar 6,3.
Tujuannya, mewujudkan GDP riil sebesar 2,341 trilyun dollar AS dengan pendapatam per kapita 7.552,361dollar AS tahun 2030. Dan selanjutnya, pada tahun 2045, GDP riil dan GDP per kapita setara negara maju, yaitu GDP riil sebesar 8,528 trilyun dollar AS dengan pendapatan per kapita 26.320,665 dollar AS tahun 2045.
Langkah kedua, status negara maju tidak cukup hanya berdasarkan GDP per kapita tetapi juga dapat dilihat pada The Economic Complexity Index (ECI). ECI mengukur produktifitas pengetahun yang tercermin pada diversifikasi dan sopistikasi produk-produk ekspor suatu negara. Di mana, dalam 26 tahun terakhir, sejak tahun 2000, peringkat ECI Indonesia justru semakin buruk, dari peringkat 49 tahun 2000 menjadi 72 tahun 2023.
Hal ini, mencerminkan bahwa produk ekspor Indonesia semakin bergantung pada hasil eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) non olahan bernilai tambah rendah. Kondisi ini sejalan dengan peran sektor manufaktur dalam pembentukan GDP Indonesia yang menurun dari 32 persen tahun 2000 menjadi hanya 18,98 persen.
Sebaliknya dengan Vietnam yang mencatat rekor pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 8,02 persen secara global tahun 2025, mengalami kenaikan peringkat ECI dari 86 tahun 2000 menjadi 48 tahun 2023. Hal ini, mencerminkan bahwa ekspor Vietnam semakin bergeser dari labor-intensive industry ke medium to high-tech industry, seperti produk elektronik dan digital.
Mengakselerasi pengembangan integrated industrial estate berbasis komoditi unggulan di setiap propinsi. Di mana, industri berbasis SDA dengan medium-technology based industry dipusatkan di luar pulau Jawa dan high-tech industry yang membutuhkan tenaga kerja terampil, dukungan lembaga pelatihan, riset dan pengembangan dibangun di pulau Jawa.
Akhirnya, kembali ke taklimat presiden Prabowo Subianto kepada para guru besar yang mengutip fisikawan, Albert Einstein bahwa “insanity is doing the same thing over and over again and expecting the different result”. Ibarat mobil, saatnya kita berpindah dari “gigi tiga ke gigi lima”, mengubah cara berpikir dan bertindak menuju status negara maju tahun 2045.
(rca)
Lihat Juga :