Pesantren Kilat Internasional: Ketika Sarung dan Peci Memikat Dunia
Sabtu, 03 Januari 2026 - 19:40 WIB
Yang menarik, tidak ada satu pun peserta yang menyerah di tengah jalan. Mereka bertahan hingga hari terakhir. Dan pada upacara penutupan tanggal 15 Januari 2025, salah seorang peserta bahkan tampil sebagai pembawa acara. Sesuatu yang mustahil dibayangkan dua pekan sebelumnya.
"Saya merasa lebih percaya diri setelah mengikuti program ini," kata pemuda itu, disambut tepuk tangan seluruh hadirin.
Keberhasilan program perdana ini rupanya menarik perhatian negara tetangga.
Sebelas bulan kemudian, pada penghujung Desember 2025, giliran 25 santri dari SABP Maahad Ahmadi Negeri Sembilan, Malaysia, yang datang berkunjung. Mereka tiba bersama tujuh guru pendamping, dan langsung disambut dengan upacara pembukaan di Aula Ibnu Rusyd.
K.H. Busthomi Ibrahim, Ph.D., Ketua Yayasan Darunnajah, menyambut rombongan dengan penjelasan tentang sejarah dan sistem pendidikan pesantren. Beliau menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam mengembangkan pendidikan Islam, terutama di kalangan generasi muda.
MD Nasir Bin Othman, pimpinan rombongan dari Malaysia, merespons dengan antusias. Ia berharap hubungan antara pesantren-pesantren di Indonesia dan Malaysia dapat semakin erat, dengan tujuan bersama memajukan pendidikan Islam yang berkualitas.
Program untuk rombongan Malaysia berlangsung lebih singkat, hanya satu pekan dari 25 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Tapi intensitasnya tidak kalah. Setiap hari, para peserta menjalani salat berjamaah, belajar Iqro dan ilmu mufrodat, berlatih muhadhoroh, hingga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti kunjungan keliling pondok dan olahraga bersama.
Ada pertanyaan yang sering muncul ketika program ini diceritakan kepada kolega di dunia akademik. Apa sebenarnya yang membuat pesantren menarik bagi orang dari luar Indonesia?
Pertanyaan ini menarik karena mengandung asumsi tersembunyi, bahwa pesantren adalah sesuatu yang "kuno" atau "ketinggalan zaman", sehingga daya tariknya terhadap dunia modern perlu dijelaskan.
Barangkali jawabannya justru sebaliknya. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, di mana orang-orang terhubung secara digital tetapi terputus secara emosional, pesantren menawarkan sesuatu yang langka. Sebuah komunitas yang benar-benar hidup.
Di pesantren, santri tidak belajar sendirian di depan layar komputer. Mereka belajar bersama, makan bersama, salat bersama, bahkan tidur di kamar yang sama. Mereka berdebat, bercanda, bertengkar, lalu berbaikan. Mereka membentuk ikatan yang tidak bisa direplikasi oleh platform digital mana pun.
Pesantren juga mengajarkan sesuatu yang semakin langka di dunia modern, yaitu kesederhanaan. Di sini, santri belajar bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada kemewahan material. Bahwa disiplin adalah fondasi kebebasan sejati. Bahwa menghormati guru dan sesama adalah bagian tak terpisahkan dari menuntut ilmu.
Nilai-nilai ini universal. Ia melampaui sekat agama, budaya, bahkan bahasa. Dan mungkin itulah mengapa pesantren bisa menarik minat pemuda dari Australia yang tumbuh dalam budaya yang sama sekali berbeda.
Tentu saja, program semacam ini bukan tanpa tantangan.
Durasi satu atau dua pekan jelas tidak cukup untuk memberikan pengalaman mendalam tentang kehidupan pesantren yang sesungguhnya. Santri Darunnajah menjalani sistem ini selama enam tahun. Bagaimana mungkin esensinya bisa ditangkap dalam hitungan hari?
Memang tidak bisa sepenuhnya. Yang bisa dilakukan adalah memberikan semacam "cicipan", sebuah pengantar yang cukup untuk membangkitkan rasa ingin tahu, membuka cakrawala, dan menanamkan benih apresiasi.
"Saya merasa lebih percaya diri setelah mengikuti program ini," kata pemuda itu, disambut tepuk tangan seluruh hadirin.
Keberhasilan program perdana ini rupanya menarik perhatian negara tetangga.
Sebelas bulan kemudian, pada penghujung Desember 2025, giliran 25 santri dari SABP Maahad Ahmadi Negeri Sembilan, Malaysia, yang datang berkunjung. Mereka tiba bersama tujuh guru pendamping, dan langsung disambut dengan upacara pembukaan di Aula Ibnu Rusyd.
K.H. Busthomi Ibrahim, Ph.D., Ketua Yayasan Darunnajah, menyambut rombongan dengan penjelasan tentang sejarah dan sistem pendidikan pesantren. Beliau menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam mengembangkan pendidikan Islam, terutama di kalangan generasi muda.
MD Nasir Bin Othman, pimpinan rombongan dari Malaysia, merespons dengan antusias. Ia berharap hubungan antara pesantren-pesantren di Indonesia dan Malaysia dapat semakin erat, dengan tujuan bersama memajukan pendidikan Islam yang berkualitas.
Program untuk rombongan Malaysia berlangsung lebih singkat, hanya satu pekan dari 25 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Tapi intensitasnya tidak kalah. Setiap hari, para peserta menjalani salat berjamaah, belajar Iqro dan ilmu mufrodat, berlatih muhadhoroh, hingga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti kunjungan keliling pondok dan olahraga bersama.
Ada pertanyaan yang sering muncul ketika program ini diceritakan kepada kolega di dunia akademik. Apa sebenarnya yang membuat pesantren menarik bagi orang dari luar Indonesia?
Pertanyaan ini menarik karena mengandung asumsi tersembunyi, bahwa pesantren adalah sesuatu yang "kuno" atau "ketinggalan zaman", sehingga daya tariknya terhadap dunia modern perlu dijelaskan.
Barangkali jawabannya justru sebaliknya. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, di mana orang-orang terhubung secara digital tetapi terputus secara emosional, pesantren menawarkan sesuatu yang langka. Sebuah komunitas yang benar-benar hidup.
Di pesantren, santri tidak belajar sendirian di depan layar komputer. Mereka belajar bersama, makan bersama, salat bersama, bahkan tidur di kamar yang sama. Mereka berdebat, bercanda, bertengkar, lalu berbaikan. Mereka membentuk ikatan yang tidak bisa direplikasi oleh platform digital mana pun.
Pesantren juga mengajarkan sesuatu yang semakin langka di dunia modern, yaitu kesederhanaan. Di sini, santri belajar bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada kemewahan material. Bahwa disiplin adalah fondasi kebebasan sejati. Bahwa menghormati guru dan sesama adalah bagian tak terpisahkan dari menuntut ilmu.
Nilai-nilai ini universal. Ia melampaui sekat agama, budaya, bahkan bahasa. Dan mungkin itulah mengapa pesantren bisa menarik minat pemuda dari Australia yang tumbuh dalam budaya yang sama sekali berbeda.
Tentu saja, program semacam ini bukan tanpa tantangan.
Durasi satu atau dua pekan jelas tidak cukup untuk memberikan pengalaman mendalam tentang kehidupan pesantren yang sesungguhnya. Santri Darunnajah menjalani sistem ini selama enam tahun. Bagaimana mungkin esensinya bisa ditangkap dalam hitungan hari?
Memang tidak bisa sepenuhnya. Yang bisa dilakukan adalah memberikan semacam "cicipan", sebuah pengantar yang cukup untuk membangkitkan rasa ingin tahu, membuka cakrawala, dan menanamkan benih apresiasi.
Lihat Juga :