Harga Beras Dunia Turun Drastis karena Indonesia Tak Impor Tahun Ini?
Rabu, 24 Desember 2025 - 10:13 WIB
Sebagai eksportir nomor satu dunia, langkah India itu berdampak langsung pada harga beras di pasar dunia: harga beras meroket.
Data FAO dan Bank Dunia menunjukkan, harga ekspor beras untuk kualitas patahan 5% di semua negara eksportir sepanjang 2025 konsisten menurun. Di India harga ekspor beras broken 5% sepanjang tahun ini turun 19%. Pada periode yang sama, harga beras ekspor patahan 5% asal Thailand, Amerika Serikat, Uruguay, dan Pakistan masing-masing turun 17,6%; 20,7%; 31,4%; dan 22,3%.
Harga ekspor beras patahan 5% asal Brazil turun 31,4% dan dari Argentina turun 38,7%. Penurunan terendah terjadi di Vietnam: 13,2%.
Merujuk data FAO, prospek produksi beras yang lebih baik di banyak negara produsen dan peningkatan ekspor beras India tampaknya lebih tepat untuk menjelaskan fenomena anjloknya harga beras dunia saat ini.
Ketimbang alasan karena Indonesia tidak impor beras tahun ini. Mengapa? Pertama, produksi beras di negara-negara produsen membaik. Merujuk perkiraan FAO, produksi beras global 2024/2025 mencapai 549,9 juta ton, naik 14,7 juta ton atau 2,74% dibandingkan produksi pada 2023/2024 (535,2 juta ton).
Perkiraan FAO sejalan dengan United State Department of Agriculture (USDA) yang memperkirakan produksi beras global 2024/25 mencapai 541,3 juta ton, lebih tinggi 17,3 juta ton dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan produksi tertinggi terjadi di India: dari 137,8 juta ton pada 2023/2024 menjadi 150 juta ton pada 2024/2025 atau naik 8,8%. Merujuk USDA, kenaikan produksi beras Indonesia sebesar 3,3%, Thailand 4%, Brazil 20,8%, dan AS 2,8%. Kenaikan serupa juga terjadi di Kamboja dan Myanmar.
Dengan produksi yang naik tersebut, suplai beras global diperkirakan mencapai 749,1 juta ton (naik 19,6 juta ton dibanding tahun sebelumnya).
Sedangkan permintaan beras diperkirakan sekitar 539,8 juta ton (naik 11,1 juta ton atau 2% dibandingkan tahun sebelumnya). Menurut FAO, peningkatan volume permintaan beras ini yang tertinggi sepanjang sejarah.
Jadi, meskipun Indonesia tidak impor beras tahun ini permintaan beras tidak turun. Justru naik. Pertumbuhan permintaan beras dunia utamanya didorong oleh peningkatan konsumsi beras di wilayah Afrika (Angola, Kamerun, Pantai Gading, Madagaskar, Nigeria, dan Senegal) yang dipicu peningkatan pendapatan, urbanisasi, pertambahan jumlah penduduk, dan perubahan pola pangan pokok dari nonberas ke beras.
Kedua, Indonesia bukan importir beras terbesar dunia yang rutin tiap tahun. Merujuk data Bank Dunia, sepanjang 2018-2024 importir beras terbesar dunia diduduki China dengan impor 3,393 juta ton per tahun.
Data FAO dan Bank Dunia menunjukkan, harga ekspor beras untuk kualitas patahan 5% di semua negara eksportir sepanjang 2025 konsisten menurun. Di India harga ekspor beras broken 5% sepanjang tahun ini turun 19%. Pada periode yang sama, harga beras ekspor patahan 5% asal Thailand, Amerika Serikat, Uruguay, dan Pakistan masing-masing turun 17,6%; 20,7%; 31,4%; dan 22,3%.
Harga ekspor beras patahan 5% asal Brazil turun 31,4% dan dari Argentina turun 38,7%. Penurunan terendah terjadi di Vietnam: 13,2%.
Merujuk data FAO, prospek produksi beras yang lebih baik di banyak negara produsen dan peningkatan ekspor beras India tampaknya lebih tepat untuk menjelaskan fenomena anjloknya harga beras dunia saat ini.
Ketimbang alasan karena Indonesia tidak impor beras tahun ini. Mengapa? Pertama, produksi beras di negara-negara produsen membaik. Merujuk perkiraan FAO, produksi beras global 2024/2025 mencapai 549,9 juta ton, naik 14,7 juta ton atau 2,74% dibandingkan produksi pada 2023/2024 (535,2 juta ton).
Perkiraan FAO sejalan dengan United State Department of Agriculture (USDA) yang memperkirakan produksi beras global 2024/25 mencapai 541,3 juta ton, lebih tinggi 17,3 juta ton dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan produksi tertinggi terjadi di India: dari 137,8 juta ton pada 2023/2024 menjadi 150 juta ton pada 2024/2025 atau naik 8,8%. Merujuk USDA, kenaikan produksi beras Indonesia sebesar 3,3%, Thailand 4%, Brazil 20,8%, dan AS 2,8%. Kenaikan serupa juga terjadi di Kamboja dan Myanmar.
Dengan produksi yang naik tersebut, suplai beras global diperkirakan mencapai 749,1 juta ton (naik 19,6 juta ton dibanding tahun sebelumnya).
Sedangkan permintaan beras diperkirakan sekitar 539,8 juta ton (naik 11,1 juta ton atau 2% dibandingkan tahun sebelumnya). Menurut FAO, peningkatan volume permintaan beras ini yang tertinggi sepanjang sejarah.
Jadi, meskipun Indonesia tidak impor beras tahun ini permintaan beras tidak turun. Justru naik. Pertumbuhan permintaan beras dunia utamanya didorong oleh peningkatan konsumsi beras di wilayah Afrika (Angola, Kamerun, Pantai Gading, Madagaskar, Nigeria, dan Senegal) yang dipicu peningkatan pendapatan, urbanisasi, pertambahan jumlah penduduk, dan perubahan pola pangan pokok dari nonberas ke beras.
Kedua, Indonesia bukan importir beras terbesar dunia yang rutin tiap tahun. Merujuk data Bank Dunia, sepanjang 2018-2024 importir beras terbesar dunia diduduki China dengan impor 3,393 juta ton per tahun.
Lihat Juga :