Pembangunan Nilai Patriotik, Empati dan Gigih pada Pemuda
Minggu, 14 Desember 2025 - 21:28 WIB
Hendarman - Ketua Dewan Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI, Analis Kebijakan Ahli Utama pada Kemendikdasmen. Foto/Dok pribadi
Hendarman
Analis Kebijakan Ahli Utama pada Pusat Penguatan Karakter, Kemendikdasmen/KetuaDewan Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan
Menarik rencana kementerian yang mengurusi pemuda dan olahraga untuk membangun tiga nilai penting karakter bagi pemuda yaitu patriotik, empati dan gigih. Rencana yang dicanangkan oleh Erick Thohir, Menteri Pemuda dan Olahraga seyogianya segera diwujudkan. Ketiga nilai tersebut krusial untuk membentuk pemuda sebagai warga negara yang bertanggung jawab, mampu berkolaborasi dalam masyarakat majemuk, serta resilien menghadapi perubahan dan tantangan era digital. Mengapa?
Pemuda adalah aktor transformasi sosial baik sebagai penerus maupun pembaharu. Di tengah arus globalisasi, digitalisasi, dan polarisasi sosial, pembentukan karakter menjadi prioritas untuk menjaga kohesi nasional, kesehatan sosial, dan ketangguhan individu. Nilai-nilai seperti patriotik (cinta tanah air dan tanggung jawab berbangsa), empati (kemampuan memahami dan merespon perasaan orang lain), serta kegigihan (kemampuan bertahan dan mengejar tujuan jangka panjang meski menghadapi hambatan) berfungsi saling melengkapi.
Urgensi
Dari berbagai literatur terungkap bahwa nilai patriorik dapat menjaga identitas kolektif dan partisipasi demokrasi. Pertama, ditinjau dari kohesi nasional maka patriotisme menumbuhkan rasa memiliki terhadap negara dan meminimalkan fragmentasi identitas. Hal ini penting mengingat keragaman budaya dan tantangan disinformasi. Kedua, patriotik mensyaratkan partisipasi sipil dan tanggung jawab publik. Dengan demikian, pemuda yang memiliki nilai patriotik cenderung lebih aktif terlibat dalam kegiatan kebangsaan, bela negara sipil, dan inisiatif sosial yang memperkuat ketahanan negara.
Nilai empati diyakini oleh berbagai pakar dapat mencegah polarisasi dan mendorong kerja sama sosial. Pertama, dengan dimiliknya nilai empati maka diharapkan akan terjadi penurunan konflik sosial. Dalam hal ini maka empati memainkan peran penting untuk memudahkan pemahaman lintas kelompok dan menurunkan kecenderungan dehumanisasi lawan politik atau kelompok lain. Kedua, nilai empati terkait dengan kapasitas kepemimpinan inklusif. Pemimpin muda yang empatik mampu merancang kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan beragam pemangku kepentingan (stakeholder).
Lebih lanjut, literatur psikologi dan pendidikan menegaskan bahwa empati adalah fondasi perilaku prososial (to help, cooperate, and support). Pengembangan empati di satuan pendidikan dan komunitas terbukti meningkatkan keterlibatan sosial, mengurangi konflik antar-kelompok, dan mendukung inklusi.
Analis Kebijakan Ahli Utama pada Pusat Penguatan Karakter, Kemendikdasmen/KetuaDewan Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan
Menarik rencana kementerian yang mengurusi pemuda dan olahraga untuk membangun tiga nilai penting karakter bagi pemuda yaitu patriotik, empati dan gigih. Rencana yang dicanangkan oleh Erick Thohir, Menteri Pemuda dan Olahraga seyogianya segera diwujudkan. Ketiga nilai tersebut krusial untuk membentuk pemuda sebagai warga negara yang bertanggung jawab, mampu berkolaborasi dalam masyarakat majemuk, serta resilien menghadapi perubahan dan tantangan era digital. Mengapa?
Pemuda adalah aktor transformasi sosial baik sebagai penerus maupun pembaharu. Di tengah arus globalisasi, digitalisasi, dan polarisasi sosial, pembentukan karakter menjadi prioritas untuk menjaga kohesi nasional, kesehatan sosial, dan ketangguhan individu. Nilai-nilai seperti patriotik (cinta tanah air dan tanggung jawab berbangsa), empati (kemampuan memahami dan merespon perasaan orang lain), serta kegigihan (kemampuan bertahan dan mengejar tujuan jangka panjang meski menghadapi hambatan) berfungsi saling melengkapi.
Urgensi
Dari berbagai literatur terungkap bahwa nilai patriorik dapat menjaga identitas kolektif dan partisipasi demokrasi. Pertama, ditinjau dari kohesi nasional maka patriotisme menumbuhkan rasa memiliki terhadap negara dan meminimalkan fragmentasi identitas. Hal ini penting mengingat keragaman budaya dan tantangan disinformasi. Kedua, patriotik mensyaratkan partisipasi sipil dan tanggung jawab publik. Dengan demikian, pemuda yang memiliki nilai patriotik cenderung lebih aktif terlibat dalam kegiatan kebangsaan, bela negara sipil, dan inisiatif sosial yang memperkuat ketahanan negara.
Nilai empati diyakini oleh berbagai pakar dapat mencegah polarisasi dan mendorong kerja sama sosial. Pertama, dengan dimiliknya nilai empati maka diharapkan akan terjadi penurunan konflik sosial. Dalam hal ini maka empati memainkan peran penting untuk memudahkan pemahaman lintas kelompok dan menurunkan kecenderungan dehumanisasi lawan politik atau kelompok lain. Kedua, nilai empati terkait dengan kapasitas kepemimpinan inklusif. Pemimpin muda yang empatik mampu merancang kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan beragam pemangku kepentingan (stakeholder).
Lebih lanjut, literatur psikologi dan pendidikan menegaskan bahwa empati adalah fondasi perilaku prososial (to help, cooperate, and support). Pengembangan empati di satuan pendidikan dan komunitas terbukti meningkatkan keterlibatan sosial, mengurangi konflik antar-kelompok, dan mendukung inklusi.
Lihat Juga :