Tertinggi di Indonesia, DBD di Buleleng Capai 2.677 Kasus

Selasa, 15 September 2020 - 14:00 WIB
Selain itu, ada dari sisi nyamuknya yakni nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue. Serta dari faktor lingkungan yang mempengaruhi siklus hidup nyamuk Aedes aegypti ini. "Kemudian dari host-nya atau manusianya, bagaimana sirkulasinya, bagaimana siklus hidupnya dari penjamu host-nya ini ketika terjadi infeksi pada seseorang. Dan yang berkaitan dengan hal ini adalah faktor risiko lingkungan. Karena banyak sekali tadah hujan di daerah kita," kata Didik.

Didik mengatakan, populasi nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD ini meningkat pada saat musim penghujan. "Siklus hidup terjadi DBD karena hujan. Jadi ketika musim penghujan maka terjadi kasus yang tinggi tapi ketika kemarau ini malah populasi nyamuknya rendah. Tapi begitu hujan lagi populasinya naik lagi. Nah ini karena lingkungan kita berpotensi untuk bisa menjadi sarang untuk bertelur menjadi jentik-jentik nyamuk," katanya. (Baca juga: Terserang Demam Berdarah, Bocah 6 Tahun di Sikka Meregang Nyawa )

Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kasus DBD ini terutama dengan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus. "Upaya-upaya untuk bisa mengendalikan ketika terjadi pergantian musim dari kemarau ke penghujan. Ini yang perlu diantisipasi dengan kegiatan-kegiatan PSN dan 3M Plus, ini yang bisa kita lakukan," kata Didik.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!