Keputusan Prabowo Rehabilitasi Profesional yang Berintegritas Sudah Tepat

Rabu, 26 November 2025 - 20:56 WIB
Rehabilitasi dari Presiden Prabowo masuk pada ruang itu: ruang koreksi. Ruang di mana negara mengakui bahwa proses hukum bisa meleset, atau setidaknya menghasilkan ketimpangan yang merugikan seseorang yang integritasnya tak terbukti cacat. Dan Prabowo memilih tidak membiarkan kesalahan itu menjadi catatan permanen bagi seorang profesional yang selama ini justru memberi nilai tambah pada institusi yang ia pimpin.

Langkah ini bukan insiden tunggal. Sebelumnya, Prabowo juga memberi abolisi kepada Thomas Lembong—figur bersih, teknokrat kelas berat, dan bukan orang yang bermain politik murahan. Polanya makin jelas: presiden membaca bahwa ekosistem hukum harus dibersihkan dari residu kriminalisasi profesional. Negara tidak boleh memotong karier orang-orang yang seharusnya menyokong pembangunan hanya karena tafsir birokrasi yang keliru atau tarik-menarik kepentingan.

Dalam studi administrasi modern, perlindungan terhadap teknokrat bersih adalah ciri negara yang ingin stabil. Thailand era Bhumibol melakukannya. Singapura era Lee Kuan Yew menjadikannya fondasi meritokrasi. Jepang era Meiji membuka pintu modernisasi lewat para profesional yang sebelumnya tersisih. Skandinavia sejak lama mempraktikkan rehabilitasi moral bagi pejabat yang dijatuhi stigma tidak tepat. Indonesia jarang mengambil rute itu. Kali ini, Prabowo mengambilnya.

Dan itu penting. Bukan demi Ira semata, tapi demi pesan kepada seluruh birokrasi: kamu akan dilindungi kalau kamu bekerja benar. Kamu tidak akan jadi tumbal politik kalau kamu menjaga integritas. Ini pesan sederhana, tapi efeknya bisa panjang. Tanpa atmosfer seperti ini, orang-orang kompeten memilih menjauh dari pemerintahan karena takut terseret perkara yang tidak lahir dari niat jahat, tetapi dari dinamika institusi yang rumit.

Namun satu hal tetap harus ditegaskan: langkah seperti ini hanya efektif bila dibarengi transparansi. Keputusan presiden harus mampu dijelaskan secara administratif, bukan emosional. Publik perlu tahu dasar hukumnya, pertimbangannya, dan mekanisme eksekusinya. Bukan karena kita meragukan, tetapi karena pemerintahan modern bekerja lewat akuntabilitas.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!