Guru Besar UNJ: Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Penghormatan Negara
Sabtu, 08 November 2025 - 16:49 WIB
“Soeharto memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan. Ia turut dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang memaksa Belanda menandatangani Perjanjian Roem–Roijen, hingga akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar 1949,” terangnya.
Baca juga: Presiden Prabowo Umumkan Penerima Gelar Pahlawan Nasional pada 10 November
Sebagai Panglima Mandala, Soeharto juga memimpin operasi pembebasan Irian Barat dan kemudian tampil di saat genting ketika bangsa ini terancam perpecahan akibat G30S/PKI. “Ulama besar KH Prof. M. Quraish Shihab pernah berkata, andaikan Soeharto tidak mengambil langkah cepat melawan G30S/PKI, mungkin suara azan masjid dan lonceng gereja tak lagi terdengar di negeri ini,” ujarnya.
Abdul Haris menilai kepemimpinan Soeharto tidak hanya menyelamatkan stabilitas politik, tetapi juga mengangkat ekonomi nasional dari keterpurukan. “Setelah masa krisis ekonomi di era Presiden Soekarno, Soeharto membawa Indonesia ke arah stabilitas dengan program Repelita. Perekonomian tumbuh, dan bangsa ini bahkan mencapai swasembada pangan,” jelasnya.
Abdul Haris juga menyinggung kebijakan pembangunan di sektor sosial seperti Sekolah Dasar Inpres dan Puskesmas, yang memperluas akses pendidikan dan kesehatan masyarakat.
"Selain itu, Soeharto dikenal sebagai motor di balik kemajuan industri strategis nasional seperti IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) sekarang PTDI, PAL dll", jelasnya.
Terkait kebijakan keras di masa Orde Baru seperti penembakan misterius (Petrus), Abdul Haris mengajak masyarakat menilai dalam konteks zaman dan tantangan saat itu.
Baca juga: Presiden Prabowo Umumkan Penerima Gelar Pahlawan Nasional pada 10 November
Sebagai Panglima Mandala, Soeharto juga memimpin operasi pembebasan Irian Barat dan kemudian tampil di saat genting ketika bangsa ini terancam perpecahan akibat G30S/PKI. “Ulama besar KH Prof. M. Quraish Shihab pernah berkata, andaikan Soeharto tidak mengambil langkah cepat melawan G30S/PKI, mungkin suara azan masjid dan lonceng gereja tak lagi terdengar di negeri ini,” ujarnya.
Abdul Haris menilai kepemimpinan Soeharto tidak hanya menyelamatkan stabilitas politik, tetapi juga mengangkat ekonomi nasional dari keterpurukan. “Setelah masa krisis ekonomi di era Presiden Soekarno, Soeharto membawa Indonesia ke arah stabilitas dengan program Repelita. Perekonomian tumbuh, dan bangsa ini bahkan mencapai swasembada pangan,” jelasnya.
Abdul Haris juga menyinggung kebijakan pembangunan di sektor sosial seperti Sekolah Dasar Inpres dan Puskesmas, yang memperluas akses pendidikan dan kesehatan masyarakat.
"Selain itu, Soeharto dikenal sebagai motor di balik kemajuan industri strategis nasional seperti IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) sekarang PTDI, PAL dll", jelasnya.
Terkait kebijakan keras di masa Orde Baru seperti penembakan misterius (Petrus), Abdul Haris mengajak masyarakat menilai dalam konteks zaman dan tantangan saat itu.
Lihat Juga :