Prabowo Subianto dan Asa Nobel Perdamaian

Jum'at, 10 Oktober 2025 - 13:29 WIB
Bahkan dalam perkembangan terkini, terjadi insiden penembakan atas WNI atas nama Paulus Taek Oki (69), warga desa Inbate, Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, pada Agustus 2025. Oki bersama rombongannya sesama petani sedang membakar lahan guna penanaman baru, tiba-tiba dari sisi distrik Oecusse, Timor Leste, mereka bagai disapu oleh beberapa tembakan dengan peluru kaliber 5,5 mm yang tentu berasal dari aparat perbatasan negara tetangga itu. Beruntung Oki, peluru hanya mengenai bahunya. Meski harus dilarikan ke rumah sakit, ia selamat.

Kedua, keberadaan jenazah tokoh-tokoh kemerdekaan Timor Leste, khususnya Nicolau Lobato (1946-1978), Perdana Menteri pertama Timor Leste setelah Fretilin memproklamirkan kemerdekaan pada Desember 1975 yang tewas tertembak dalam sebuah operasi penyergapan.

Fidelis Magalhaes mencatat, sejak kematian tokoh kunci Fretilin itu dimaklumatkan secara resmi pada akhir Desember 1978, hingga kini keberadaan jenazahnya masih dinyatakan hilang. Pemerintah Timor Leste telah melakukan berbagai upaya penyelidikan sejak 2002, guna menemukan jenazah pahlawan kemerdekaan mereka itu, tapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Pada 2014, lantaran mengalami kebuntuan dalam kerja sama formal antarpemerintah, Perdana Menteri Xanana Gusmao mendesak organisasi veteran Indonesia di bawah pimpinan Letjen TNI (Purn) Agum Gumelar untuk memulai pencarian jenazah Lobato. Gumelar menyetujui dan langsung memimpin tim pencari fakta. Namun, kunjungan tim pencari fakta ke Timor-Leste di akhir tahun yang sama, juga tidak membuahkan hasil.

Meskipun Gumelar telah meyakinkan Menteri Luar Negeri Aurelio Guterres, bahwa upaya lebih lanjut akan terus dilakukan dengan mengajukan permohonan resmi pada pemerintah Indonesia, tapi hingga tahun 2018, pemerintah Indonesia tidak menanggapi permohonan tersebut.

Masih dalam pengamatan Fidelis Magalhaes, menurut mantan Ketua Dewan Menteri (2020-2023) di era pemerintahan Taur Matan Ruak itu, meskipun sebagian besar masyarakat Timor Leste mendukung rekonsiliasi dengan Indonesia, isu-isu penting yang belum kunjung terselesaikan itu dapat menghambat proses penyembuhan trauma akibat prahara berdarah selama 23 tahun.

Ketidakpastian atas dua persoalan krusial di atas, diklaim dapat mendistorsi optimisme atas masa depan hubungan kedua negara. Isu-isu besar tersebut dipandang masih relevan, sebagaimana tercermin dalam tema-tema yang dieksplorasi oleh karya seniman Timor Leste, Maria Madeira, yang dipamerkan di Venice Biennale ke-60 pada 2024, di mana fokus utamanya adalah trauma, harapan, dan penyembuhan.

Dari sisi political will Prabowo Subianto, sebagai orang nomor satu di republik ini, tercatat baru satu kali pertemuan resmi antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Timor Leste, yakni forum 30 menit dengan delegasi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Xanana Gusmao pada 21 Oktober 2024. Itupun tak lebih dari formalitas ucapan selamat atas pelantikan Prabowo Subianto sebagai kepala negara.

Sementara yang ditunggu-tunggu oleh rakyat kedua pihak adalah sikap Prabowo secara personal, sebagai negarawan dengan pengalaman militer yang dimilikinya selama era Integrasi Timor Timur. Dalam artikelnya, Fidelis Magalhaes mengutip rekaman wawancara Prabowo Subianto di salah satu kanal Podcast pada Februari 2024, sebagaimana juga pada Buku 2 - Kepemimpinan Militer Catatan Pengalaman Letjen Purn Prabowo Subianto, khususnya ketika ia menyingkap sisi humanisnya sebagai anggota korps Baret Merah kepada seorang gerilyawan Falintil, sayap militer Fretilin yang tertangkap dalam keadaan terluka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!