Hadapi Intoleransi dan Radikalisme Online, Anak Perlu Dibekali Imunitas Digital
Kamis, 09 Oktober 2025 - 22:51 WIB
Saat ini, sebaran propaganda radikalisme dan terorisme tidak hanya memanfaatkan media sosial, namun juga pada online games seperti Roblox dan semacamnya. Hal ini bukanlah tanpa sebab, jaringan radikal teror memang menargetkan anak-anak sebagai audiens utama mereka.
Kecenderungan anak-anak menelan informasi dengan mentah, kemudian diperparah oleh pengawasan orang tua yang minim ketika mereka menggunakan gawai, menjadi "lahan basah" bagi kelompok radikal untuk menyebarkan ideologinya.
Menurut Enda, sebenarnya cara untuk menangkal sebaran konten radikal cukup mudah. Orang tua hanya perlu memfasilitasi dan mendorong anak-anaknya untuk memperbanyak interaksi secara langsung dengan teman-teman mereka di dunia nyata.
"Kalau anak punya kegiatan langsung di dunia nyata, berinteraksi langsung dengan teman yang sebaya akan lebih sehat bagi perkembangan fisik dan mental anak. Risiko akan tetap ada, bisa saja anak kita terjatuh dan terluka ketika bermain di luar rumah, atau misalnya mungkin berkelahi dengan temannya sendiri. Walaupun demikian, sebenarnya kejadian yang kurang menyenangkan bagi anak bisa menyiapkan diri mereka secara fisik dan mental, serta membantu pendewasaan si anak ketika menghadapi permasalahan yang ia temukan di luar rumah," ungkapnya.
Adanya ancaman berupa konten yang negatif di ruang maya, kata Enda, bukan berarti solusinya harus selalu memilih konten yang positif. Aktivitas di luar rumah dan interaksi langsung dengan teman sebaya bisa jadi pilihan alternatif yang jauh lebih sehat bagi generasi muda dalam pembentukan karakter mereka
Kecenderungan anak-anak menelan informasi dengan mentah, kemudian diperparah oleh pengawasan orang tua yang minim ketika mereka menggunakan gawai, menjadi "lahan basah" bagi kelompok radikal untuk menyebarkan ideologinya.
Menurut Enda, sebenarnya cara untuk menangkal sebaran konten radikal cukup mudah. Orang tua hanya perlu memfasilitasi dan mendorong anak-anaknya untuk memperbanyak interaksi secara langsung dengan teman-teman mereka di dunia nyata.
"Kalau anak punya kegiatan langsung di dunia nyata, berinteraksi langsung dengan teman yang sebaya akan lebih sehat bagi perkembangan fisik dan mental anak. Risiko akan tetap ada, bisa saja anak kita terjatuh dan terluka ketika bermain di luar rumah, atau misalnya mungkin berkelahi dengan temannya sendiri. Walaupun demikian, sebenarnya kejadian yang kurang menyenangkan bagi anak bisa menyiapkan diri mereka secara fisik dan mental, serta membantu pendewasaan si anak ketika menghadapi permasalahan yang ia temukan di luar rumah," ungkapnya.
Adanya ancaman berupa konten yang negatif di ruang maya, kata Enda, bukan berarti solusinya harus selalu memilih konten yang positif. Aktivitas di luar rumah dan interaksi langsung dengan teman sebaya bisa jadi pilihan alternatif yang jauh lebih sehat bagi generasi muda dalam pembentukan karakter mereka
Lihat Juga :