Memahami Pendekatan Luar Negeri Prabowo: Refleksi Lawatan ke LN

Jum'at, 18 Juli 2025 - 18:56 WIB
Jika Indonesia justru melakukan retaliasi tarif kepada Amerika Serikat, ditakutkan hal ini akan menjadi norma yang umum untuk dilakukan pada hubungan dagang yang memiliki asas bebas tarif, terkhusus untuk regional Asia Tenggara.

Lalu, perubahan pada kebijakan tarif yang terjadi dalam waktu yang singkat akan beresonansi dengan tingginya ketidakpastian di sistem internasional–hal ini merupakan salah satu indikasi atas kembali dominannya elemen anarki dalam hubungan internasional. Perlu diingat, anarki dapat memaksa negara untuk bersikap individualistis dan egois dalam kerja sama internasional. Tentu saja, ini bukan hal yang kita inginkan untuk mengejar kedamaian dunia.

Pengingat untuk Indonesia

Jika kita bertolak kembali dengan pembahasan awal, kita dapat melihat bahwa banyak aktor negara sedang berusaha untuk menyeimbangkan pengaruh oleh Amerika Serikat dari tarif yang mereka berikan. Salah satu kesepakatan yang mengagetkan dunia adalah kesepakatan trilateral yang terjadi antara Jepang, China, dan Korea, untuk menghapus biaya tarif antar ketiga negara tersebut.

Hal ini cukup mengejutkan karena Jepang dan Korea pada umumnya memiliki kutub kepentingan geopolitik yang berkebalikan dengan China. Kesepakatan yang terkesan berada di luar kemungkinan ini sepertinya telah menginspirasi Indonesia untuk menggaet Uni Eropa sebagai rekan dagangnya.

Hubungan dagang dengan Uni Eropa melalui IE-CEPA dapat memberi ruang untuk kita agar tidak terlalu khawatir atas ketiadaan leverage negosiasi tarif dagang kita dengan Amerika Serikat di kemudian hari. Sebagai salah satu negara dengan perairan tersibuk di dunia, Indonesia hanya boleh sedikit berkompromi untuk tetap menjaga relevansinya sebagai aktor yang aktif dan berdaulat di kancah internasional.

Dengan kata lain, kunjungan luar negeri Presiden Prabowo memberikan gambaran bahwa Indonesia sadar atas agregat kekuasaan yang hadir antara Amerika Serikat dan Indonesia. Rasionalisasi yang dilakukan bukanlah dengan melakukan retaliasi penuh, namun dengan menghabiskan terlebih dahulu seluruh jalan alternatif yang ada sehingga kepentingan domestik tetap terpenuhi.

Retaliasi dianggap bukanlah jalan yang baik untuk dilakukan, namun bukan berarti kemudian Indonesia memasrahkan kepentingan kepada Gedung Putih. Lagipula, tidak akan ada aktor internasional apapun yang bisa memaksa Amerika Serikat untuk terus menetapkan tarif dagang sebesar 19% kepada Indonesia.

Washington bisa saja berubah arah dan pikiran–berorientasi pragmatis, sehingga menghasilkan kebijakan luar negeri yang berbeda pada waktu dan tempo yang singkat: hanya karena mereka memiliki kapasitas dan kemampuan untuk melakukan hal itu.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!