Eksistensi E-Commerce dan Kinerja Inflasi
Kamis, 17 Juli 2025 - 06:39 WIB
Di sinilah peran strategis dan sinergis antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi penting, bukan sekadar sebagai pengendali harga, tetapi juga sebagai fasilitator transformasi digital yang lebih inklusif.
Taruh contoh program seperti digitalisasi 1.000 UMKM, pelatihan keterampilan digital, hingga pengembangan aplikasi lokal seperti program APPAKABAJI di Makassar menjadi teladan nyata bagaimana pemerintah daerah mencoba menjembatani kesenjangan digital bagi pelau usaha kecil dan mikro.
Program ini mencakup sistem data, inkubator, pendampingan hingga akselerasi produk berkualitas dan ekspansi pasar. Meskipun tantangan seperti biaya logistik tinggi, keterbatasan sumber daya manusia, dan infrastruktur terpasang yang belum merata masih terus menghantui. Paling tidak contoh nyata ini bisa menjadi studi tiru di belahan wilayah potensial lainnya di Indonesia.
Di balik semua itu, kita melihat satu hal menjanjikan bahwa pengendalian inflasi tak harus melulu soal menekan permintaan. Lewat e-commerce, poin yang tertangkap nyata adalah kita bisa mengurangi inflasi melalui jalur produktivitas dan efisiensi. Ini adalah narasi baru dalam lanskap ekonomi Indonesia, sebuah pendekatan yang lebih sejuk, tanpa perlu memukul daya beli masyarakat.
Dalam jangka panjang, jika e-commerce bisa diintegrasikan lebih luas dan merata ke seluruh pelosok negeri, maka Indonesia tidak hanya akan punya ekonomi yang lebih efisien, tapi juga lebih adil. Harga-harga akan lebih terkendali bukan karena masyarakat menahan konsumsi, melainkan karena teknologi membantu pasar bekerja lebih baik.
Tapakan ekonomi Indonesia sedang berada di jalan yang benar. Pertumbuhan ekonomi digital kita, yang diperkirakan mencapai USD 360 miliar pada 2030, adalah sinyal kuat bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tapi juga aktor penting dalam ekonomi digital dunia.
Jika tren ini terus dikuatkan dengan kebijakan yang tepat, maka bukan tidak mungkin kita akan punya model pengendalian inflasi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Mungkin inilah saatnya perspektif masyarakat yang dibenamkan pada pemahaman bahwa eksistensi e-commerce bukan hanya sebagai saluran belanja online, namun lebih sebagai instrumen kebijakan ekonomi baru, yang senyap, efisien dan berdampak luas.
Maka, inflasi bisa dilawan, bukan dengan menutup keran belanja, tetapi dengan membuka akses dan informasi yang luas kepada konsumen dalam pengambilan keputusan belanjanya.
Singkatnya, digitalisasi mampu menunjukkan instrumen pengendalian inflasi yang signifikan, namun perlu pengawasan secara periodik oleh pengedali otoritas. Sehingga tidak menimbulkan gejolak harga yang kurang bisa diprediksi.
Taruh contoh program seperti digitalisasi 1.000 UMKM, pelatihan keterampilan digital, hingga pengembangan aplikasi lokal seperti program APPAKABAJI di Makassar menjadi teladan nyata bagaimana pemerintah daerah mencoba menjembatani kesenjangan digital bagi pelau usaha kecil dan mikro.
Program ini mencakup sistem data, inkubator, pendampingan hingga akselerasi produk berkualitas dan ekspansi pasar. Meskipun tantangan seperti biaya logistik tinggi, keterbatasan sumber daya manusia, dan infrastruktur terpasang yang belum merata masih terus menghantui. Paling tidak contoh nyata ini bisa menjadi studi tiru di belahan wilayah potensial lainnya di Indonesia.
Di balik semua itu, kita melihat satu hal menjanjikan bahwa pengendalian inflasi tak harus melulu soal menekan permintaan. Lewat e-commerce, poin yang tertangkap nyata adalah kita bisa mengurangi inflasi melalui jalur produktivitas dan efisiensi. Ini adalah narasi baru dalam lanskap ekonomi Indonesia, sebuah pendekatan yang lebih sejuk, tanpa perlu memukul daya beli masyarakat.
Dalam jangka panjang, jika e-commerce bisa diintegrasikan lebih luas dan merata ke seluruh pelosok negeri, maka Indonesia tidak hanya akan punya ekonomi yang lebih efisien, tapi juga lebih adil. Harga-harga akan lebih terkendali bukan karena masyarakat menahan konsumsi, melainkan karena teknologi membantu pasar bekerja lebih baik.
Tapakan ekonomi Indonesia sedang berada di jalan yang benar. Pertumbuhan ekonomi digital kita, yang diperkirakan mencapai USD 360 miliar pada 2030, adalah sinyal kuat bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tapi juga aktor penting dalam ekonomi digital dunia.
Jika tren ini terus dikuatkan dengan kebijakan yang tepat, maka bukan tidak mungkin kita akan punya model pengendalian inflasi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Mungkin inilah saatnya perspektif masyarakat yang dibenamkan pada pemahaman bahwa eksistensi e-commerce bukan hanya sebagai saluran belanja online, namun lebih sebagai instrumen kebijakan ekonomi baru, yang senyap, efisien dan berdampak luas.
Maka, inflasi bisa dilawan, bukan dengan menutup keran belanja, tetapi dengan membuka akses dan informasi yang luas kepada konsumen dalam pengambilan keputusan belanjanya.
Singkatnya, digitalisasi mampu menunjukkan instrumen pengendalian inflasi yang signifikan, namun perlu pengawasan secara periodik oleh pengedali otoritas. Sehingga tidak menimbulkan gejolak harga yang kurang bisa diprediksi.
(shf)
Lihat Juga :