Potensi Perang Dunia dan Kesiapan Indonesia ke Depan
Sabtu, 05 Juli 2025 - 11:48 WIB
Ia menegaskan pentingnya memperkuat Komcad seperti yang dilakukan China. “Mereka bahkan melatih nelayan jadi bagian dari sistem pertahanan. Kita harus bisa berpikir sepraktis itu,” kata Stepi.
Ia mengusulkan agar Komcad dilatih menjadi milisi laut dan ditempatkan untuk menjaga pulau-pulau terluar Indonesia.
Diskusi juga menyoroti pentingnya skenario contingency planning, kelemahan logistik pertahanan, serta kebutuhan akan transformasi strategi nasional dari sekadar “resiliensi” menuju “respons tangkas berbasis intelijen dan teknologi.”
“Perang modern itu cukup dengan satu tombol,” ujar Dr. Sunoto, menyinggung urgensi mengubah doktrin lama dan memperkuat kemampuan early warning.
Kemudian, sejumlah pembicara seperti Nurhayati Assegaf dan Ahmad Yani juga mempertanyakan apakah visi besar Presiden Prabowo benar-benar didukung oleh susunan kabinet yang kuat? Apakah ketimpangan fiskal bisa segera ditambal? Dan sejauh mana kita mampu mengejar ketertinggalan teknologi?
Teguh Santosa, pengamat global, menegaskan, dalam dunia yang anarkis, setiap negara harus selisih. Ia menyebut aspek deterrence bukan hanya militer, tapi juga kualitas SDM. “Kita pengguna gadget terbanyak, tapi indeks baca terendah. Ini ironi yang berbahaya.”
Di akhir diskusi, Syahganda menyampaikan kesimpulan. “Kalau kita tidak bersiap, kita akan jadi korban. Pembentukan UU Keamanan Nasional dan Dewan Keamanan Nasional bukan pilihan, itu kebutuhan mutlak," ujarnya.
Ia menambahkan, politik luar negeri Indonesia tak cukup dengan slogan bebas-aktif. “Harus ada keseimbangan. Harus ada ketegasan.”
Sebagai penutup, GREAT Institute mengingatkan bangsa ini pada satu pelajaran dari sejarah: dunia tak pernah benar-benar damai. Dan dalam kata George Kennan, arsitek strategi containment AS saat Perang Dingin, yang dalam diskusi dikutip Rizal Dharma Putra: “You have no idea what an intelligent person, fully informed, could do for this country—if we would only give him the chance.”
Ia mengusulkan agar Komcad dilatih menjadi milisi laut dan ditempatkan untuk menjaga pulau-pulau terluar Indonesia.
Diskusi juga menyoroti pentingnya skenario contingency planning, kelemahan logistik pertahanan, serta kebutuhan akan transformasi strategi nasional dari sekadar “resiliensi” menuju “respons tangkas berbasis intelijen dan teknologi.”
“Perang modern itu cukup dengan satu tombol,” ujar Dr. Sunoto, menyinggung urgensi mengubah doktrin lama dan memperkuat kemampuan early warning.
Kemudian, sejumlah pembicara seperti Nurhayati Assegaf dan Ahmad Yani juga mempertanyakan apakah visi besar Presiden Prabowo benar-benar didukung oleh susunan kabinet yang kuat? Apakah ketimpangan fiskal bisa segera ditambal? Dan sejauh mana kita mampu mengejar ketertinggalan teknologi?
Teguh Santosa, pengamat global, menegaskan, dalam dunia yang anarkis, setiap negara harus selisih. Ia menyebut aspek deterrence bukan hanya militer, tapi juga kualitas SDM. “Kita pengguna gadget terbanyak, tapi indeks baca terendah. Ini ironi yang berbahaya.”
Di akhir diskusi, Syahganda menyampaikan kesimpulan. “Kalau kita tidak bersiap, kita akan jadi korban. Pembentukan UU Keamanan Nasional dan Dewan Keamanan Nasional bukan pilihan, itu kebutuhan mutlak," ujarnya.
Ia menambahkan, politik luar negeri Indonesia tak cukup dengan slogan bebas-aktif. “Harus ada keseimbangan. Harus ada ketegasan.”
Sebagai penutup, GREAT Institute mengingatkan bangsa ini pada satu pelajaran dari sejarah: dunia tak pernah benar-benar damai. Dan dalam kata George Kennan, arsitek strategi containment AS saat Perang Dingin, yang dalam diskusi dikutip Rizal Dharma Putra: “You have no idea what an intelligent person, fully informed, could do for this country—if we would only give him the chance.”
(shf)
Lihat Juga :