Fateta IPB Jadi Sekolah Teknik, DPR: Hormati Nilai Historis dan Karakter Keilmuan yang Lama Melekat
Kamis, 12 Juni 2025 - 14:02 WIB
Dalam konteks ini, menurut Hetifah, sebenarnya Fateta IPB memiliki posisi strategis sebagai garda depan dalam pengembangan teknologi pertanian dan agroindustri meskipun muncul kekhawatiran (khususnya dari para alumni senior Fateta) terhadap hilangnya identitas keilmuan dengan melebur ke dalam struktur umum engineering.
“Terkait kebijakan perubahan nomenklatur atau reposisi akademik (Fateta menjadi School of Engineering ini) menurut saya, tetap harus didasarkan pada kajian ilmiah yang kuat, relevansi masa depan, dan tetap menghormati nilai historis serta karakter keilmuan yang telah lama melekat,” kata Politikus Partai Golkar ini
Baca juga: Fateta IPB, Almamater yang Lahirkan Tokoh-tokoh Pangan Dunia
Lebih lanjut, bagi Hetifah, aspirasi para alumni dan tokoh Fateta, sebenarnya sejalan dengan semangat Asta Cita yang menekankan kesinambungan, penguatan kapasitas nasional, serta penghargaan terhadap tradisi keilmuan sebagai bagian dari kemandirian bangsa. “Oleh karena itu, kebijakan ini seharusnya tidak dijalankan secara terburu-buru,” tegas Hetifah.
Atas dasar itu, legislator dapil Kalimantan Timur ini menyerukan kepada pihak kampus, rektorat maupun dekanat, untuk membuka ruang dialog yang inklusif, demokratis, dan berorientasi pada solusi bersama. “Sehingga teknologi pertanian di Fateta IPB makin berperan dalam mewujudkan pembangunan nasional namun tetap tidak menghilangkan identitas keilmuan,” pungkas Hetifah.
“Terkait kebijakan perubahan nomenklatur atau reposisi akademik (Fateta menjadi School of Engineering ini) menurut saya, tetap harus didasarkan pada kajian ilmiah yang kuat, relevansi masa depan, dan tetap menghormati nilai historis serta karakter keilmuan yang telah lama melekat,” kata Politikus Partai Golkar ini
Baca juga: Fateta IPB, Almamater yang Lahirkan Tokoh-tokoh Pangan Dunia
Lebih lanjut, bagi Hetifah, aspirasi para alumni dan tokoh Fateta, sebenarnya sejalan dengan semangat Asta Cita yang menekankan kesinambungan, penguatan kapasitas nasional, serta penghargaan terhadap tradisi keilmuan sebagai bagian dari kemandirian bangsa. “Oleh karena itu, kebijakan ini seharusnya tidak dijalankan secara terburu-buru,” tegas Hetifah.
Atas dasar itu, legislator dapil Kalimantan Timur ini menyerukan kepada pihak kampus, rektorat maupun dekanat, untuk membuka ruang dialog yang inklusif, demokratis, dan berorientasi pada solusi bersama. “Sehingga teknologi pertanian di Fateta IPB makin berperan dalam mewujudkan pembangunan nasional namun tetap tidak menghilangkan identitas keilmuan,” pungkas Hetifah.
Lihat Juga :