Dari Indonesia Maritime Week 2025, Captain Hakeng Serukan Sinergi Kebangkitan Maritim Indonesia
Rabu, 28 Mei 2025 - 20:11 WIB
“Indonesia punya posisi geostrategis di jalur perdagangan utama dunia, seperti Selat Malaka dan Laut China Selatan. Kekuatan kita terletak pada kapasitas menjadi penyeimbang kawasan,” sambungnya.
Menurut dia, Indonesia harus cakap bersaing dan berkolaborasi dengan negara-negara seperti Tiongkok, India, dan Jepang. IMW 2025 menyediakan ruang untuk memainkan peran tersebut secara konstruktif, dengan menampilkan solusi maritim yang tak hanya adaptif, tetapi juga proaktif terhadap disrupsi global.
Aspek strategis lainnya dari IMW 2025 yakni upaya memperkuat ekosistem triple helix berupa industri, akademisi, dan pemerintah.
Hakeng menuturkan pembangunan maritim nasional ke depan harus berbasis kebutuhan industri yang terus berkembang dan terdigitalisasi, bukan semata-mata berdasarkan pendekatan birokratis.
Selain itu, ada salah satu panel yang sangat strategis dalam gelaran IMW 2025 yaitu Panel 9 yang membahas "Trade Risk and Regulatory Compliance". Bagi dia, diskusi ini merefleksikan tantangan utama sektor pelayaran abad ke-21. “Kita tidak bisa bicara maritim tanpa membahas risiko perdagangan dan fragmentasi regulasi global,” ujarnya.
Perdagangan laut kini sangat rentan terhadap konflik kawasan seperti Laut Merah dan Laut China Selatan dan dampak proteksionisme. Dalam hal ini, Indonesia harus menavigasi risiko geokomersial secara hati-hati dan adaptif mengingat posisinya yang strategis di jalur perdagangan global.
Regulatory compliance atau kepatuhan terhadap regulasi internasional juga menjadi sorotan penting. Menurut Hakeng, Indonesia harus mampu mengadopsi standar internasional seperti MARPOL dan SOLAS sekaligus membangun sistem pengawasan domestik yang tangguh.
Menurut dia, Indonesia harus cakap bersaing dan berkolaborasi dengan negara-negara seperti Tiongkok, India, dan Jepang. IMW 2025 menyediakan ruang untuk memainkan peran tersebut secara konstruktif, dengan menampilkan solusi maritim yang tak hanya adaptif, tetapi juga proaktif terhadap disrupsi global.
Aspek strategis lainnya dari IMW 2025 yakni upaya memperkuat ekosistem triple helix berupa industri, akademisi, dan pemerintah.
Hakeng menuturkan pembangunan maritim nasional ke depan harus berbasis kebutuhan industri yang terus berkembang dan terdigitalisasi, bukan semata-mata berdasarkan pendekatan birokratis.
Selain itu, ada salah satu panel yang sangat strategis dalam gelaran IMW 2025 yaitu Panel 9 yang membahas "Trade Risk and Regulatory Compliance". Bagi dia, diskusi ini merefleksikan tantangan utama sektor pelayaran abad ke-21. “Kita tidak bisa bicara maritim tanpa membahas risiko perdagangan dan fragmentasi regulasi global,” ujarnya.
Perdagangan laut kini sangat rentan terhadap konflik kawasan seperti Laut Merah dan Laut China Selatan dan dampak proteksionisme. Dalam hal ini, Indonesia harus menavigasi risiko geokomersial secara hati-hati dan adaptif mengingat posisinya yang strategis di jalur perdagangan global.
Regulatory compliance atau kepatuhan terhadap regulasi internasional juga menjadi sorotan penting. Menurut Hakeng, Indonesia harus mampu mengadopsi standar internasional seperti MARPOL dan SOLAS sekaligus membangun sistem pengawasan domestik yang tangguh.
Lihat Juga :