Pendidikan, Perjalanan yang Tak Pernah Berhenti
Rabu, 28 Mei 2025 - 17:11 WIB
Muhammad Irfanudin Kuniawan - Dosen Universitas Darunnajah. Foto/Dok pribadi
Muhammad Irfanudin Kurniawan
Dosen Universitas Darunnajah (UDN)
Pendidikan adalah perjalanan yang tak pernah mengenal akhir. Ia adalah siklus yang tak pernah berhenti, seperti aliran air yang terus mengalir tanpa henti, meskipun kadang tersendat oleh bebatuan yang menghadang. Seperti yang terjadi pada para ulama besar masa lalu, yang tak pernah lelah dalam pencarian ilmu, meskipun terkadang harus mengorbankan sesuatu yang amat berharga. Kisah-kisah mereka seharusnya menjadi cermin bagi kita dalam memandang makna sesungguhnya dari pendidikan dan proses belajar mengajar.
Mari kita ambil contoh dari kisah Abu Yusuf, murid tercinta Abu Hanifah. Ketika anaknya meninggal dunia, ia tetap hadir dalam majelis ilmu bersama gurunya. Sungguh, ini bukan keputusan yang mudah. Dalam situasi yang penuh duka, Abu Yusuf memilih untuk tidak terlibat dalam prosesi penguburan anaknya, meskipun itu adalah kewajibannya sebagai seorang ayah. Ia berkomentar dengan penuh rasa takut kehilangan momen berharga, "Aku takut kehilangan momen belajar dari Abu Hanifah yang bisa menyesalku seumur hidup". Kisah ini mengajarkan kita tentang betapa berartinya ilmu, bahwa dalam situasi yang sangat emosional sekalipun, ilmu tetap menjadi prioritas yang tak bisa ditunda.
Dosen Universitas Darunnajah (UDN)
Pendidikan adalah perjalanan yang tak pernah mengenal akhir. Ia adalah siklus yang tak pernah berhenti, seperti aliran air yang terus mengalir tanpa henti, meskipun kadang tersendat oleh bebatuan yang menghadang. Seperti yang terjadi pada para ulama besar masa lalu, yang tak pernah lelah dalam pencarian ilmu, meskipun terkadang harus mengorbankan sesuatu yang amat berharga. Kisah-kisah mereka seharusnya menjadi cermin bagi kita dalam memandang makna sesungguhnya dari pendidikan dan proses belajar mengajar.
Mari kita ambil contoh dari kisah Abu Yusuf, murid tercinta Abu Hanifah. Ketika anaknya meninggal dunia, ia tetap hadir dalam majelis ilmu bersama gurunya. Sungguh, ini bukan keputusan yang mudah. Dalam situasi yang penuh duka, Abu Yusuf memilih untuk tidak terlibat dalam prosesi penguburan anaknya, meskipun itu adalah kewajibannya sebagai seorang ayah. Ia berkomentar dengan penuh rasa takut kehilangan momen berharga, "Aku takut kehilangan momen belajar dari Abu Hanifah yang bisa menyesalku seumur hidup". Kisah ini mengajarkan kita tentang betapa berartinya ilmu, bahwa dalam situasi yang sangat emosional sekalipun, ilmu tetap menjadi prioritas yang tak bisa ditunda.
Lihat Juga :