Komunikasi Etnografi Kritikal dalam Menunjang DEI dan CSR Perusahaan

Kamis, 10 April 2025 - 21:48 WIB
Oleh karena itu, perusahaan dan juga kampanye yang menggunakan etnografi untuk menangani isu dan juga keharusan dan kebutuhan dari perusahaan tersebut, dimana sebuah perusahaan harus dapat melakukan komunikasi dua arah dengan pegawainya dan juga masyarakat. Komunikasi dua arah ini dapat dijelaskan dengan studi The Excellence Theory of Public Relation yang dilakukan oleh The International Association of Business Communicators Research Foundation dimana Grunig (2008) mengatakan bahwa nilai dari hubungan publik kepada masyarakat didasarkan oleh dari tanggung jawab sosial dan juga kualitas hubungan dengan pemegang saham, jika tidak, para pemangku kepentingan akan menekan organisasi untuk berubah atau menentangnya dengan cara yang menambah biaya dan risiko pada kebijakan dan keputusan organisasi.

Oleh karena itu, perusahaan juga berusaha untuk mendapatkan respons yang baik dari para pemegang saham, ditambah lagi dengan adanya panduan wajib yang harus diterapkan seperti melakukan aksi Corporate Social Responsibility (CSR) dan juga Environmental, Social, and Governance (ESG), dan lebih lanjutnya lagi menjadi kampanye DEI dalam ruang kerja. Menurut Brown (2025), DEI sendiri dapat dijelaskan dengan bagaimana keberagaman dalam aspek gender, usia, ras dan etnis dan juga kemampuan fisik, kesetaraan dalam perlakuan, dan juga inklusi terhadap perasaan seorang individu. Dalam kegiatannya untuk mendapat simpati dari para pemegang saham. Dalam kegiatan ini perusahaan perusahaan menggunakan kampanye yang ditujukan untuk membantu kegiatan sosial dari sisi yang dianggap penting oleh perusahaan untuk membalas budi kepada masyarakat dan juga budaya di sekitarnya. Dalam penerapan CSR dan DEI, suatu perusahaan juga menghasilkan sebuah laporan dimana kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut menjadi kegiatan hubungan publik yang diharapkan bermanfaat bagi kedua belah pihak.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh McKinsey (2020) mengenai sustainabilitas, perusahaan yang memiliki fokus untuk ESG memiliki kinerja finansial dibandingkan perusahaan yang tidak berfokus terhadap ESG. Hal tersebut dikarenakan oleh aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan tersebut memaksimalkan nilai finansial dengan cara memperbagus hubungan dengan pelanggan dan juga bagaimana membuat sustainabilitas menambahkan nilai pada usaha tersebut. Pada halnya di perusahaan yang berada di dalam negeri sudah mulai mengimplementasikan kegiatan kegiatan tersebut pada usahanya. Seperti contohnya, laporan yang dibuat oleh Unilever Indonesia pada laman daringnya yang menyatakan pencapaian DEI yang diraih pada tahun 2023.

Pada laman tersebut PT Unilever indonesia menceritakan pencapaian Kesetaraan Gender .Mereka menyebutkan perkembangan dalam jajaran komisaris, direksi, dan manajerialnya yang meningkat populasi gender perempuan, dan dukungannya terhadap representasi perempuan dalam tim dan juga penyandang disabilitas. Selain melakukan aksi hubungan publik, PT Unilever Indonesia juga melakukan gerakan untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik dengan kode etik Respect, Dignity, & Fair Treatment (RDFT) yang mempromosikan keberagaman, rasa saling percaya, menghormati hak asasi manusia, dan memberikan kesempatan yang setara, tanpa diskriminasi. Selain itu PT Unilever Indonesia juga menerapkan kerjasama untuk melawan Bullying di tempat kerja.

Sama halnya dengan etnografi yang dilakukan pada perusahaan, dengan adanya wawancara yang dilakukan dengan mendalam terhadap karyawan dan juga orang orang yang termarginalisasi. Menurut teori dari Spradley (1979) tujuan dari etnografi dilakukan untuk melihat dan juga mendengar sebanyak mungkin untuk mendapatkan catatan dari wawancara yang dilakukan sebaik mungkin dan bisa mendapatkan cara untuk pemecahan masalah. Hal ini dapat berfungsi untuk kegiatan hubungan publik yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Kolaborasi yang dilakukan oleh etnografer dan juga tim CSR dapat menghasilkan hasil yang lebih rinci terhadap program CSR yang dilakukan oleh perusahaan, dikarenakan etnografer akan melakukan dengan cara interview dengan tim terkait mengenai informasi dari perusahaan tersebut dan juga apa yang diutamakan dalam program csr yang akan dilakukan, hal itu akan dilakukan pencocokan dengan keadaan sekitar yang menjadi target dari program tersebut. Hasil informasi dari etnografi mungkin tidak langsung mendapatkan apa yang dapat dilakukan, seperti contohnya bagaimana sebuah perusahaan yang memiliki banyak kerugian yang dihasilkan dari bagaimana mereka tidak dapat meraih calon pelanggan lokal, dapat diidentifikasi masalahnya, namun untuk usaha yang dapat dilakukan belum tentu dapat berhasil, namun dengan cara komunikasi kritis yang dibantu dengan etnografi, adanya kemungkinan bahwa daerah tersebut dapat dilayani dengan lebih baik.

Contoh dari pendekatan yang dilakukan perusahaan seperti PT Unilever Indonesia dalam melakukan pendekatan gender sebagai pesan kampanye yang dilakukan untuk mewakili gender yang saat ini masih menjadi kelompok marginal bahwa perusahaan melakukan gerakan yakni suatu jabatan tidak lagi harus memandang gender, ras, maupun latar belakang. Ditambah lagi dengan adanya kampanye tersebut, berita yang dikeluarkan secara internal dan juga eksternal akan mendukung bagaimana kaum marginal memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai posisi manajerial, direksi, maupun komisaris. Hal yang sama juga dilakukan pada kanal media sosial dari Unilever yang sempat merayakan Hari Wanita Internasional yang membawakan narasi bahwa PT Unilever Indonesia mendukung gerakan DEI. Selain itu melalui kanal social media tersebut mereka juga mempromosikan program yang mendukung perempuan dalam bekerja di bidang yang tadinya didominasi oleh laki laki. Program Women in Engineering Unilever Leadership Fellowship ditujukan kepada mahasiswa perempuan yang memiliki latar belakang teknik yang memiliki keinginan untuk berkarier pada rantai pasok Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Diketahui, pada tahun 2023 sebanyak 1.100 mahasiswa berpartisipasi terhadap program tersebut.

Pendekatan etnografi yang diterapkan oleh PT Unilever Indonesia dalam strategi hubungan publiknya menunjukkan bagaimana pemahaman budaya dan pengalaman sosial dapat membentuk komunikasi korporat yang lebih empatik dan relevan. Dalam upayanya mengangkat isu sosial dan gender, Unilever tidak hanya menjalankan program-program CSR simbolik, melainkan menghadirkan inisiatif yang menyentuh langsung kelompok-kelompok marginal. Salah satu contohnya adalah program penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi yang ditujukan kepada penyandang disabilitas, khususnya tunarungu. Program ini menjadi bukti bahwa isu kesehatan, gender, dan disabilitas dapat dijadikan titik masuk strategis dalam membangun relasi yang bermakna antara perusahaan dan masyarakat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!