Korona Masih Ada

Senin, 31 Agustus 2020 - 06:37 WIB
Di beberapa daerah, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, kebijakan PSBB berulang kali diperpanjang. PSBB tersebut makin ke sini kian diperlonggar dengan aneka modifikasi. Ada yang memberikan istilah PSBB transisi, PSBB proporsional, PSBB pra-adaptasi kebiasaan baru dan lain-lain.

Istilah-istilah tersebut seiring dengan pelonggaran PSBB yang sesungguhnya tidak pernah ketat dalam pelaksanaanya. Kekhawatiran bakal macetnya ekonomi masyarakat menjadi pertimbangan para pembuat kebijakan. Hasilnya, seperti sudah ditebak. Jumlah positif korona terus menanjak. Ekonomi pun tak terselamatkan. Di kuartal II/2020 terjadi konstraksi alias penurunan angka pertumbuhan ekonomi sebesar -5,32%.

Melonggarnya PSBB pada akhir Juni 2020, di satu sisi memberikan kesempatan kepada para pelaku usaha yang sempat tutup selama tiga bulan sebelumya untuk kembali beroperasi. Ini bisa terlihat dari aktivitas pusat perbelanjaan yang sudah mulai kembali buka secara bertahap.

Namun, tampaknya pelonggaran PSBB ini justru malah kebablasan. Banyak masyarakat justru merasa korona sudah hilang. Tak jarang kita melihat kerumuman-kerumunan di tempat umum. Warung-warung kopi dan restoran pun kembali dipadati pengunjung. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito juga mengakui, disiplin masyarakat masih rendah dalam menerapkan protokol kesehatan.

Pelonggaran PSBB juga berdampak pada aktivitas transportasi umum yang perlahan bangkit. Puncaknya, pada musim liburan 17–23 Agustus lalu jumlah penumpang kereta jarak jauh melonjak hingga 88%. Di sektor angkutan udara pun demikian. Operator Bandara Soekarno Hatta menyebut, terjadi kenaikan pergerakan jumlah penumpang yang mencapai 1,9 juta orang sepanjang periode 1-28 Agustus 2020. Angka itu naik 41% dibanding periode Juli lalu yang hanya 1,34 juta penumpang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!