Kolaborasi untuk Beri Ruang Aman bagi Lansia dan ODD
Jum'at, 20 September 2024 - 21:59 WIB
“Pandangan yang tidak akurat tentang demensia ini menjadi perhatian utama, terutama dari para pelaku dunia kesehatan, karena dapat menunda diagnosis dan akses ke pengobatan, perawatan, dan dukungan yang tepat,” ujar CEO ADI Paola Barbarino.
Paola mengatakan bahwa hal ini terjadi pada saat perawatan baru disetujui di seluruh dunia, bersamaan dengan terobosan dalam diagnostik. “Kita memerlukan persamaan persepsi dengan para pelaku dunia kesehatan untuk lebih mudah memahami bahwa demensia adalah kondisi medis yang disebabkan oleh serangkaian penyakit, di mana Alzheimer adalah yang paling umum, sehingga diagnosis yang tepat dapat diberikan, membuka pintu bagi kombinasi perawatan dan dukungan yang dapat memungkinkan orang untuk hidup lebih lama dengan baik, untuk tetap bekerja, di rumah, dan di masyarakat," jelasnya.
Sebanyak 88% orang dengan demensia menyatakan bahwa mereka pernah mengalami stigma, meningkat 5% sejak 2019. ADI mengatakan kesalahpahaman yang terus berlanjut tentang demensia melanggengkan stigma bagi orang dengan demensia. Anggota Dewan Kehormatan Alzheimer Indonesia yang juga didiagnosa Demensia William Buntoro mengaku merasa beruntung dapat mengetahui secara lengkap terkait demensia Alzheimer dan bergabung dalam komunitasnya melalui Alzheimer.
"Namun saya juga sadar bahwa akan ada lebih banyak orang yang akan mendapat manfaatnya jika mereka atau anggota keluarga mereka memiliki akses ke informasi, layanan, dan bantuan di kotanya masing-masing. Untuk itu, saya berharap pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dapat menyadari kegentingan ini dan memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka yang menuju lansia,” pungkasnya.
Paola mengatakan bahwa hal ini terjadi pada saat perawatan baru disetujui di seluruh dunia, bersamaan dengan terobosan dalam diagnostik. “Kita memerlukan persamaan persepsi dengan para pelaku dunia kesehatan untuk lebih mudah memahami bahwa demensia adalah kondisi medis yang disebabkan oleh serangkaian penyakit, di mana Alzheimer adalah yang paling umum, sehingga diagnosis yang tepat dapat diberikan, membuka pintu bagi kombinasi perawatan dan dukungan yang dapat memungkinkan orang untuk hidup lebih lama dengan baik, untuk tetap bekerja, di rumah, dan di masyarakat," jelasnya.
Sebanyak 88% orang dengan demensia menyatakan bahwa mereka pernah mengalami stigma, meningkat 5% sejak 2019. ADI mengatakan kesalahpahaman yang terus berlanjut tentang demensia melanggengkan stigma bagi orang dengan demensia. Anggota Dewan Kehormatan Alzheimer Indonesia yang juga didiagnosa Demensia William Buntoro mengaku merasa beruntung dapat mengetahui secara lengkap terkait demensia Alzheimer dan bergabung dalam komunitasnya melalui Alzheimer.
"Namun saya juga sadar bahwa akan ada lebih banyak orang yang akan mendapat manfaatnya jika mereka atau anggota keluarga mereka memiliki akses ke informasi, layanan, dan bantuan di kotanya masing-masing. Untuk itu, saya berharap pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dapat menyadari kegentingan ini dan memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka yang menuju lansia,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :