Festival Sidang Balai Panjang, Upaya Hidupkan Lagi Warisan Budaya yang Hampir Punah
Sabtu, 24 Agustus 2024 - 13:08 WIB
Kesenian yang ditampilkan sanggar-sanggar lokal dan disajikan oleh peserta anak muda pada festival ini di antaranya Tari Tumbuk Tingkah dari Sanggar Empelu Jaya, Tari Brelek Gedang dari Sanggar Puspita, Tari Selibu Padi dari Sanggar Gadis Balai Panjang, dan pertunjukan Sidang Balai Panjang dari Sanggar Bungo Kanhinok.
Pertunjukan Sidang Balai Panjang terinspirasi dari tradisi dalam menetapkan sanksi adat yang tetap terlaksana hingga saat ini sejak ratusan tahun silam.
Sidang ini dilakukan di Rumah Tuo Balai Panjang yang juga telah berumur ratusan tahun. Kurator Lokal, Ja’far turut memberikan pandangan mengenai makna dari Rumah Balai Panjang dalam kehidupan masyarakat setempat.
Menurut dia, Rumah Balai Panjang yang berbentuk seperti perahu merepresentasikan masyarakat Bungo yang bergantung pada air. “Rumah Balai Panjang bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga pusat persidangan adat yang mengatur segala sesuatu terkait norma dan hukum adat. Bentuknya yang seperti perahu menandakan bahwa kehidupan masyarakat sangat bergantung pada air dan lingkungan perairan,” ungkap Ja’far.
Tradisi Sidang Balai Panjang adalah sebuah praktik kebudayaan yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Tanah Periuk. Maka itu, pertunjukan kesenian Sidang Balai Panjang yang ditampilkan tidak terlepas dari nilai budaya setempat.
“Dengan mengajak anak muda terlibat dalam kesenian ini bisa menjadi upaya bersama dalam melestarikan kebudayaan,” kata Ja’far.
Festival Sidang Balai Panjang membuktikan bahwa pelestarian kebudayaan dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya melalui seni pertunjukan yang melibatkan generasi muda. Dengan demikian, warisan budaya yang hampir punah dapat terus hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.
Pertunjukan Sidang Balai Panjang terinspirasi dari tradisi dalam menetapkan sanksi adat yang tetap terlaksana hingga saat ini sejak ratusan tahun silam.
Sidang ini dilakukan di Rumah Tuo Balai Panjang yang juga telah berumur ratusan tahun. Kurator Lokal, Ja’far turut memberikan pandangan mengenai makna dari Rumah Balai Panjang dalam kehidupan masyarakat setempat.
Menurut dia, Rumah Balai Panjang yang berbentuk seperti perahu merepresentasikan masyarakat Bungo yang bergantung pada air. “Rumah Balai Panjang bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga pusat persidangan adat yang mengatur segala sesuatu terkait norma dan hukum adat. Bentuknya yang seperti perahu menandakan bahwa kehidupan masyarakat sangat bergantung pada air dan lingkungan perairan,” ungkap Ja’far.
Tradisi Sidang Balai Panjang adalah sebuah praktik kebudayaan yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Tanah Periuk. Maka itu, pertunjukan kesenian Sidang Balai Panjang yang ditampilkan tidak terlepas dari nilai budaya setempat.
“Dengan mengajak anak muda terlibat dalam kesenian ini bisa menjadi upaya bersama dalam melestarikan kebudayaan,” kata Ja’far.
Festival Sidang Balai Panjang membuktikan bahwa pelestarian kebudayaan dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya melalui seni pertunjukan yang melibatkan generasi muda. Dengan demikian, warisan budaya yang hampir punah dapat terus hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.
Lihat Juga :