Satu Dekade JKN, Pelayanan Berobat Semakin Cepat dan Bermutu
Rabu, 31 Juli 2024 - 22:38 WIB
Pengamat kesehatan yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama menyampaikan pemikiran senada. Menurut dia, perwujudan Universal Health Coverage (UHC) melalui program JKN harus mencakup tindakan promotif dan preventif. Tak sekadar tindakan kuratif semata.
“Artinya, jangan hanya orang sakit baru berobat, tetapi juga pencegahan. Untuk mengetahui sejak dini kondisi kesehatan seseorang seperti apa,” ujarnya kepada SINDONews. Dengan demikian, lanjut dia, jika ada masalah kesehatan yang menimpa masyarakat peserta BPJS Kesehatan, akan diketahui lebih dini. Dengan begitu tercipta pelayanan bermutu yang menjadi salah satu tujuan dari adanya JKN.
Satu dekade mengemban amanah menjalankan JKN, BPJS Kesehatan telah banyak menciptakan terobosan yang mengubah sistem layanan kesehatan di Indonesia. Ratusan juta orang sudah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Peningkatan jumlah peserta JKN itu juga diiringi dengan kemudahan akses layanan kesehatan.
Kemudahan layanan BPJS bukanlah sekadar klaim. Hal itu dirasakan oleh Uus Usman, warga Rancah, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Nasib tak mujur menimpanya saat dia harus cuti untuk mengunjungi keluarganya. Angan-angan bisa bercengkrama dengan anak-anaknya pun buyar tatkala mendadak dia jatuh pingsan di kamar mandi.
baca juga: BPJS Kesehatan Optimis Indonesia Mencapai Cakupan Kesehatan Semesta pada 2024
Yuliwati, sang istri pun panik. Berbekal mobil pick up milik tetangga, dia memboyong suaminya ke RS Dadi Keluarga, Ciamis. Masalah kembali mendera saat diketahui kartu BPJS Uus Usman tertinggal di Jakarta. Beruntung pengelola rumah sakit mengabarkan bahwa saat itu bisa menggunakan nomor induk kependudukan yang terdaftar di BPJS Kesehatan. Akhirnya, Uus pun bisa mendapatkan penanganan segera. “Saya sudah tak ingat apa-apa, semua istri yang urus,” paparnya kepada SINDOnews.
Karena Uus harus menjalani operasi di kepalanya, RS Dadi Keluarga pun merujuk Uus ke RS Margono Purwokerto yang memiliki peralatan lebih lengkap. Meskipun fasilitas kesehatannya berada di provinsi yang berbeda, namun tak ada prosedur berbelit yang dialami oleh Uus.
“Selama total 14 hari dirawat termasuk operasi saya tak keluarkan biaya pengobatan, semua ditanggung BPJS. Sebagai pekerja yang hanya berstatus kontrak, saya bersyukur ada BPJS,” urainya. Uus didiagnosis menderita TBC kelenjar di kepalanya. Prosedur operasi pun harus dijalaninya selama beberapa jam.
baca juga: BPJS Kesehatan Anugerahkan Penghargaan bagi 20 Jurnalis Terbaik
“Alhamdulillah sekarang saya sudah kembali sehat,” ungkapnya. BPJS Kesehatan berkomitmen untuk terus memperluas jaringan mitra fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Kehadiran BPJS Kesehatan dan Program JKN akan mendorong geliat pertumbuhan industri kesehatan swasta, khususnya rumah sakit.
BPJS Kesehatan berkomitmen untuk terus berinovasi dan memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat Indonesia. Inovasi ini tidak hanya diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan JKN, tetapi juga menjadi langkah maju dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing.
“Artinya, jangan hanya orang sakit baru berobat, tetapi juga pencegahan. Untuk mengetahui sejak dini kondisi kesehatan seseorang seperti apa,” ujarnya kepada SINDONews. Dengan demikian, lanjut dia, jika ada masalah kesehatan yang menimpa masyarakat peserta BPJS Kesehatan, akan diketahui lebih dini. Dengan begitu tercipta pelayanan bermutu yang menjadi salah satu tujuan dari adanya JKN.
Satu dekade mengemban amanah menjalankan JKN, BPJS Kesehatan telah banyak menciptakan terobosan yang mengubah sistem layanan kesehatan di Indonesia. Ratusan juta orang sudah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Peningkatan jumlah peserta JKN itu juga diiringi dengan kemudahan akses layanan kesehatan.
Kemudahan layanan BPJS bukanlah sekadar klaim. Hal itu dirasakan oleh Uus Usman, warga Rancah, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Nasib tak mujur menimpanya saat dia harus cuti untuk mengunjungi keluarganya. Angan-angan bisa bercengkrama dengan anak-anaknya pun buyar tatkala mendadak dia jatuh pingsan di kamar mandi.
baca juga: BPJS Kesehatan Optimis Indonesia Mencapai Cakupan Kesehatan Semesta pada 2024
Yuliwati, sang istri pun panik. Berbekal mobil pick up milik tetangga, dia memboyong suaminya ke RS Dadi Keluarga, Ciamis. Masalah kembali mendera saat diketahui kartu BPJS Uus Usman tertinggal di Jakarta. Beruntung pengelola rumah sakit mengabarkan bahwa saat itu bisa menggunakan nomor induk kependudukan yang terdaftar di BPJS Kesehatan. Akhirnya, Uus pun bisa mendapatkan penanganan segera. “Saya sudah tak ingat apa-apa, semua istri yang urus,” paparnya kepada SINDOnews.
Karena Uus harus menjalani operasi di kepalanya, RS Dadi Keluarga pun merujuk Uus ke RS Margono Purwokerto yang memiliki peralatan lebih lengkap. Meskipun fasilitas kesehatannya berada di provinsi yang berbeda, namun tak ada prosedur berbelit yang dialami oleh Uus.
“Selama total 14 hari dirawat termasuk operasi saya tak keluarkan biaya pengobatan, semua ditanggung BPJS. Sebagai pekerja yang hanya berstatus kontrak, saya bersyukur ada BPJS,” urainya. Uus didiagnosis menderita TBC kelenjar di kepalanya. Prosedur operasi pun harus dijalaninya selama beberapa jam.
baca juga: BPJS Kesehatan Anugerahkan Penghargaan bagi 20 Jurnalis Terbaik
“Alhamdulillah sekarang saya sudah kembali sehat,” ungkapnya. BPJS Kesehatan berkomitmen untuk terus memperluas jaringan mitra fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Kehadiran BPJS Kesehatan dan Program JKN akan mendorong geliat pertumbuhan industri kesehatan swasta, khususnya rumah sakit.
BPJS Kesehatan berkomitmen untuk terus berinovasi dan memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat Indonesia. Inovasi ini tidak hanya diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan JKN, tetapi juga menjadi langkah maju dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing.
(hdr)
Lihat Juga :