Inginkah Meninggal di Tanah Suci?

Selasa, 02 Juli 2024 - 17:01 WIB
Meninggal memang bagian dari kehidupan. Lebih tepatnya ujung dari kehidupan di dunia. Dan meninggal di mana saja, tidak bisa satu pun orang dapat memastikannya. Saat di masjid, bisa tiba-tiba meninggal. Saat di sekolah, bisa pula meninggal. Saat berada di kampung halaman sendiri, maut bisa saja menjemput. Pula saat berada jauh dari kampung halamannya, nyawa pun bisa saja tercabut. Semua serba mungkin. Dan tak ada yang merasa kebal dari maut. Tak ada diri yang merasa hebat karena maut pun dianggap tak bisa menjemput.

Termasuk pula di Tanah Suci. Meninggal pun bisa saja menimpa jemaah haji. Berangkat haji sehat, tapi saat waktunya pulang sudah dipanggil Ilahi. Puncak haji di Arafat, Muzdalifah dan Mina dilewati, tapi pasca itu lengah pun membuntuti. Banyak kegiatan lalu dilakukan tanpa mengindahkan kondisi fisik yang mulai tampak lelah sekali. Hak istirahat tubuh pun tak lagi menjadi atensi. Alasannya bisa beragam sekali. Mulai atas nama ibadah hingga kepentingan memanjakan diri. Untuk lebih pasnya, tentu semua harus diteliti. Tapi, faktanya, kelelahan bisa mengancam diri. Bahkan, kematian pun bisa saja sulit untuk dihindari.

Tiba-tiba kematian pun kusaksikan sendiri terjadi pada jemaah haji Indonesia di suatu pagi. Alkisah, kala itu Hari Rabu (26 Juni 2024), jam masih menunjuk ke angka 06:30 WAS (Waktu Arab Saudi). Aku bersama Prof Masnun Tahir dan Prof Martin Kustanti sedang mendampingi pimpinan petugas haji. Namanya Pak Wibowo Prasetyo. Pergi ke Sektor 8 Daker Mekkah. Kepentingannya untuk memastikan kelancaran proses pemberangkatan jemaah haji Indonesia dari Makkah ke Madinah untuk menunaikan ibadah di Masjid Nabawi. Lalu setelah itu dari Bandara Madinah itu mereka terbang pulang ke negeri sendiri.

Saat mata mengarahkan pandangan ke semua titik persiapan keberangkatan jemaah haji di Sektor itu, tiba-tiba ada gemuruh suara dari sebuah bus yang siap memberangkatkan jemaah haji ke Madinah itu. Bergegaslah para petugas haji Sektor 8 itu menuju bus dimaksud. Lalu turunlah dari bus itu dua orang yang membopong seorang nenek. Sangat tua sekali usianya. Diboponglah sang nenek itu ke lobby hotel. Lalu, seorang lelaki Arab yang juga pimpinan maktab itu berteriak: "Kursi! Kursi! Kursi!"

Dia teriakkan kata itu kencang sekali. Sambil menyuruh anak buahnya segera menyiapkan kursi itu di lobby hotel. "Minggir! Minggir!" adalah kata lanjutan yang juga dia teriakkan berkali-bekali untuk meminta jemaah haji Indonesia yang bergerombol di depan pintu utama masuk hotel itu untuk memberi ruas jalan. Agar sang nenek yang sedang dibopong dengan buru-buru oleh dua petugas haji Indonesia itu segera bisa sampai di lobby hotel untuk duduk di kursi dan dirawat. Alhamdulillah, pada titik ini, sang nenek bisa segera mendapatkan tempat istirahat sementara di lobby itu.

Hanya beberapa menit berikutnya, datanglah mobil ambulance dengan kencangnya. Itu mobil pertolongan kesehatan yang dikemudikan oleh petugas haji Indonesia. Di dalamnya seperangkat fasilitas dan tenaga medis yang juga semuanya orang Indonesia. Itu karena, mobil ambulance itu memang fasilitas layanan dari KKHI Daker Mekkah. Bergegaslah para petugas kesehatan itu dengan perangkat alat medis bersama mereka ke dalam lobby hotel. Dilakukanlah tindakan medis darurat di lobby hotel itu.

Tiga menit berikutnya, keluarlah seluruh petugas kesehatan itu dari lobby hotel. Mereka mendorong kereta pasien dengan terburu-buru. Di atasnya ada nenek yang tadi dibopong masuk dari bus ke lobby hotel. Dia terlentang. Tanpa daya. Dan yang mengejutkanku dan tentu semua jemaah haji yang berada di ruang luar depan hotel itu, di atas kereta dorong pasien itu berdiri seorang dokter. Dia menekan-nekan dada sang nenek. Terus ditekan-tekan. Sambil kereta dorong itu didorong kencang ke arah ambulance. Walaupun sang nenek tampak diam tanpa daya. Lalu, sang nenek dengan kereta dorong dibawa masuk ke ambulance.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!