Spirit Bermain, Tragedi dan Kematian Jenaka

Minggu, 30 Juni 2024 - 09:14 WIB
Anna menyebut bahwa kisah tragis bisa mewujud secara pelan membuai bahkan elok dan dekat dengan keseharian hidup. “Terjadi pembalikan image dalam karya ini, tempat tidur yang seharusnya menjadi tempat istirahat kemudian diubahnya menjadi kuburan. Syakieb menyadari bahwa karya ini seharusnya tidak menyeramkan namun sebaliknya menjadi lebih friendly dengan memberikan kesempatan pengunjung untuk duduk di sisi tempat tidur dan berfoto”.

Pop Art dan Kejenakaan Kematian

Sejak awal, dimensi pop art merengkuh pengertian banalitas tak terbatas, melebih-lebihkan kekosongan rohani orang-orang modern selain menciptakan kritik dalam dirinya sendiri tentang pemberhalaan objek-objek budaya populer yang sejatinya remeh temeh. Di lain hal, gejala ini menimbulkan justru mereproduksi ledakan makna atas konsep abstraksi kemakmuran, kejayaan pun kemewahan dalam industri seni dunia.



Karya seni Tribute to Junk Food dengan instalasi tempat tidur mewah berhias

renda putih, tengkorak bermateri resin serta patung dan lukisan dalam satu lokasi

sungguh membangun narasi seloroh parodikal yang unik. Foto-foto: Istimewa

Jeff Koons, seniman pop art paling ikonik dunia, dengan karya paling fenomenal Balloon Dog, secara eksplisit sengaja memanfaatkan kualitas material karyanya dengan menonjolkan berpendarnya pantulan lembut obyek minimalis yang menggembung, wujud balon yang ringan, sembari memanggungkan rasa mewah konstruksi polychromed aluminum.

“Karya saya sebenarnya artikulatif di permukaan, yang memiliki kemewahan visual. Dan tatkala menyatakan tentang kemewahan visual tak ada kata lain selain maksud untuk merayakan kegembiraan dari wujud atas sensualitas, refleksi, abstraksi, dan perubahan,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan majalah gaya hidup pada 2021.

Pada 2019, karya Koons, yakni Rabbit (1986), dengan patung kelinci yang menggembung dengan tinggi satu meter terbuat dari baja tahan karat, terjual lebih dari USD91 juta, di balai lelang Christie's. Ia memecahkan rekor karya seniman yang masih hidup untuk dirinya sendiri, yang terjual di lelang mengalahkan rekor karya David Hockney pada 2018.

Fenomena Koons sebagai misal, meneruskan warisan Warhol dan sederet pemuka pop art dari Barat adalah memang sebuah keniscayaan perayaan tentang kegembiraan dari abstraksi-abstraksi fenomena urban menyimbolkan dan menghiperbolikkan makna kesejahteraan dan kemajuan, kegembiraan yang semuanya bermuara pada kemewahan atas benda-benda.

Claes Oldenburg, seniman generasi Warhol yang tersisa di usia 93tahun; yang wafat pada 2022 silam direkam oleh media BBC dalam wawancara terdahulunya, selain pengakuannya tentang karya yang terinspirasi benda-benda keseharian, reporter mencatat:

“Seniman patung ini sendiri tak percaya akan ide-ide yang cenderung lugas bisa tercipta. Ia memilih membuat patung-patung raksasa, tertarik untuk menciptakan ide-ide yang bermain-main sekaligus jenaka tetapi menyisakan tampilan teki-teki dan sedikit keseraman,”

baca juga: Sambangi Pameran Seni Butet Kartaredjasa, Mahfud MD: Banyak Pesan Kemarahan soal Hukum

Sementara itu, satu saat, masih dalam skedul pamerannya di Provoke Jakarta!, Syakieb menyatakan bahwa karya seni niscaya berelasi dengan industri, apresian hadir di pameran kemudian tersentuh oleh ide dan gagasan seniman. “Saya membebaskan pengalaman-pengalaman internal mereka menafsirkan karya. Jika seterusnya ingin memiliki dan membawa pulang karya adalah sebentuk kebenaran personal yang diyakini oleh kolektor” katanya.

Tak hendak menyandingkan pada para seniman dunia yang melegenda itu dengan Syakieb, tapi jangan-jangan pernyataanya dalam wawancara, sebentuk kritik visualnya di patung-patung gemoy-nya, lukisan dan intalasinya yang secara parodikal dengan imbuhan kejenakaan tentang kematian adalah meminjam kredo dari tokoh-tokoh sejarah pop art dunia? Anda para apresian dan kolektor seni yang lebih tahu kelak.
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!