Pameran Seni Rupa UMB, Menafisr Ulang Peran Perempuan lewat Karya 17 Dosen
Selasa, 25 November 2025 - 16:51 WIB
loading...
Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana (FDSK UMB) menggelar pameran seni rupa bertajuk PerEMPUan: Jejak, Warna, dan Suara dari Nusantara di Amuya Gallery, Jakarta pada 15-19 November 2025. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana (FDSK UMB) menggelar pameran seni rupa bertajuk “PerEMPUan: Jejak, Warna, dan Suara dari Nusantara” di Amuya Gallery, Jakarta pada 15-19 November 2025. Pameran ini tidak sekadar menampilkan karya artistik juga menjadi ruang strategis untuk menafsir ulang bagaimana perempuan membentuk, mempengaruhi, sekaligus mengkritisi lanskap seni rupa Indonesia melalui perspektif kontemporer.
Pameran dibuka Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UMB Irmulansati Tomohardjo. Dia menekankan pentingnya ruang diskursif bagi refleksi posisi perempuan dalam medan seni rupa modern. Irmulansati juga menyebut pameran ini sebagai arena untuk membaca ulang peran perempuan dalam dinamika kultural Indonesia.
“Perempuan bukan sekadar figur pasif dalam sejarah seni melainkan pusat resonansi estetika dan pemikiran,” ujarnya.
Ketua Penyelenggara Nina Maftukha mengapresiasi para perupa, akademisi, dan pemangku kepentingan seni yang terlibat. Partisipasi aktif berbagai pihak menjadi kunci dalam menghidupkan wacana PerEMPUan sebagai ruang dialog visual yang relevan dengan perkembangan sosial budaya.
Pameran ini tidak hanya menampilkan karya visual, juga diisi dengan performance art, artist talk, lokakarya, dan sesi diskusi terbuka. Seluruh rangkaian acara dirancang untuk memperluas percakapan publik mengenai identitas, pengalaman, dan agensi perempuan dalam lanskap seni kontemporer Indonesia.
Pameran dibuka Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UMB Irmulansati Tomohardjo. Dia menekankan pentingnya ruang diskursif bagi refleksi posisi perempuan dalam medan seni rupa modern. Irmulansati juga menyebut pameran ini sebagai arena untuk membaca ulang peran perempuan dalam dinamika kultural Indonesia.
“Perempuan bukan sekadar figur pasif dalam sejarah seni melainkan pusat resonansi estetika dan pemikiran,” ujarnya.
Ketua Penyelenggara Nina Maftukha mengapresiasi para perupa, akademisi, dan pemangku kepentingan seni yang terlibat. Partisipasi aktif berbagai pihak menjadi kunci dalam menghidupkan wacana PerEMPUan sebagai ruang dialog visual yang relevan dengan perkembangan sosial budaya.
Pameran ini tidak hanya menampilkan karya visual, juga diisi dengan performance art, artist talk, lokakarya, dan sesi diskusi terbuka. Seluruh rangkaian acara dirancang untuk memperluas percakapan publik mengenai identitas, pengalaman, dan agensi perempuan dalam lanskap seni kontemporer Indonesia.
Lihat Juga :