Spiritualitas dan Kesuksesan Layanan Haji

Rabu, 19 Juni 2024 - 13:48 WIB
Ibadah haji mendorong jamaah menjauh dari ketergantungan dengan dunia dan segala isinya yang begitu fana. Haji merupakan perjalanan spiritual dan merupakan ibadah yang memerlukan sikap tawadhu dan melepaskan diri dari berbagai kesenangan materi untuk bersimpuh di hadapan keagungan Allah SWT. Berseragam putih-putih ketika ihram untuk mengingatkan kain kafan yang akan membalutnya saat kematian. Mereka menunaikan manasik yang sama di tempat yang sama, mengumandangkan talbiyah yang sama, wukuf di Arafah, thawaf, mabit, dan melempar jumrah. Dimensi spiritualitas haji perlu kita pahami sebagai makna batin, makna yang terkandung dalam hikmah Ibadah haji. Mabrur tidak datang tiba-tiba. Tetapi harus diusahakan, mulai dari sebelum, saat, dan setelah pelaksanaan ibadah haji. Untuk meraih haji mabrur harus dipersiapkan dengan memahami fikih haji, melaksanakan yang diwajibkan dan disunahkan serta meninggalkan yang dilarang.

Kesuksesan Penyelenggaraan

Penyelenggaraan ibadah haji adalah sebuah proses yang kompleks dan melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat umum. Di Indonesia, penyelenggaraan haji menjadi tanggung jawab besar yang dikelola secara sistematis oleh pemerintah melalui Kementerian Agama. Setiap tahun, penyelenggaraan haji Indonesia semakin baik karena inovasi layanan. Di bawah kepemimpinan Gus Menteri, Yaqut Cholil Qoumas, kementerian agama terus berinovasi agar penyelenggaraan haji semakin baik dari tahun ke tahun. Seperti misalnya, pada musim haji 2023, Kementerian agama mengangkat tema “Haji Ramah Lansia” atau yang disingkat HRL. HRL tahun 2023 membuat para lansia tersenyum karena mendapatkan layanan khusus (special treatment). Jamaah haji lansia memang sudah sepatutnya mendapat special treatment sesuai tradisi kita orang Indonesia yang menghormati dan memuliakan orang tua, lebih-lebih mereka adalah tamu Allah SWT.

Gus Men sangat peduli terhadap lansia demi bisa menunaikan panggilan Allah yang sudah mereka rindukan puluhan tahun lalu. Kebijakan ini juga sebagai bentuk bahwa negara hadir untuk semua elemen bangsa, bahwa haji tidak hanya untuk yang muda dan kuat fisiknya, melainkan juga untuk yang lansia yang sudah menunggu sekian lama untuk menunaikan ibadah di tanah suci.

Kebijakan haji ramah lansia ini menegaskan bahwa Negara tidak membeda-bedakan masyarakat dalam menunaikan ibadah haji. Semua memiliki hak yang sama untuk menunaikan ibadah. Dalam menyukseskan haji ramah lansia ini, Gus Men memastikan petugas haji menjadi problem solver serta siap siaga membantu para jamaah lansia dan berkubutuhan khusus. Kemudian, pada akhirnya pelaksanaan haji 2023 berjalan sukses. Dan terobosan HRL dilanjutkan di tahun 2024 ini.

Inovasi Murur

Berbagai inovasi layanan juga terus dilakukan oleh Kementerian Agama dalam rangka membantu jamaah haji Indonesia memperoleh kenyamanan dan pada akhirnya menjadi haji mabrur. Di tahun 2024 ini, Menteri Agama mengeluarkan kebijakan murur di Muzdalifa. Murur atau mabit di dalam mobil saat berada di Muzdalifah. Murur ini istilah yang digunakan untuk menggambarkan jamaah yang memiliki udzur atau halangan tertentu yaitu jamaah sakit, lansia, jamaah dengan resiko tinggi (risti), dan penyandang disabilitas serta pendampingnya (jumlahnya sekitar 30%) yang melintasi Muzdalifah tanpa berhenti untuk bermalam (mabit). Strategi murur ini sangat efektif membantu mengurangi kepadatan di Muzdalifah.

Peristiwa Muzdalifah tahun 2023 menjadi pelajaran yang sangat berharga. Banyak jamaah haji yang tertinggal di Muzdalifah karena macet parah di jalur Muzdalifah-Mina. Seharusnya jam 8 pagi jamaah sudah meninggalkan Muzdalifah, tetapi sebagian jamaah masih tertinggal di Muzdalifah hingga siang hari. Perlu diketahui bahwa Muzdalifah merupakan padang yang panas, tanpa tenda, minus fasilitas, yang ada adanya toilet.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!