Jokowi Mulai Terindikasi Tak Netral, TPN Optimistis Ganjar-Mahfud Menang Satu Putaran
Kamis, 25 Januari 2024 - 22:35 WIB
“Selain itu, hasil empat debat terakhir menunjukkan hanya Ganjar-Mahfud yang terus ada di sentimen positif. Di sisi lain, Prabowo-Gibran terus berada di sentimen negatif,” jelasnya.
Khusus tentang Jokowi, Andi menjelaskan hasil analitik media sosial TPN menunjukkan bahwa presiden cenderung di wilayah sentimen negatif, terutama sejak mengomentari debat capres bertema pertahanan. Menurutnya, dalam sebulan terakhir, sentimen negatif kepada Jokowi ada di angka -62% dan tujuh hari terakhir bahkan menjadi -93%.
“Khusus hari ini, sentimen negatif pada Joko Widodo di ‘X’ atau Twitter terkait pernyataan di Halim kemarin menunjukkan minus 96 persen. Netizen menginginkan netralitas presiden dan tidak ingin Joko Widodo memiliki keberpihakan didasari konflik kepentingan karena anaknya menjadi cawapres dan ketua umum partai, sementara identitas partai Joko Widodo belum berubah,” jelas mantan Gubernur Lemhannas itu.
Andi menyebut suara-suara lain di media sosial menginginkan Presiden Jokowi fokus menyelesaikan masa jabatan keduanya sampai 20 Oktober 2024, terutama karena banyak persoalan dalam negeri maupun global yang perlu perhatian secara serius.
“Dari krisis ekonomi di Hong Kong, konflik Timur Tengah, sampai harga nikel yang terus turun memerlukan fokus presiden untuk dikerjakan, daripada ‘cawe-cawe’ urusan pemilu,” ungkapnya.
Khusus tentang Jokowi, Andi menjelaskan hasil analitik media sosial TPN menunjukkan bahwa presiden cenderung di wilayah sentimen negatif, terutama sejak mengomentari debat capres bertema pertahanan. Menurutnya, dalam sebulan terakhir, sentimen negatif kepada Jokowi ada di angka -62% dan tujuh hari terakhir bahkan menjadi -93%.
“Khusus hari ini, sentimen negatif pada Joko Widodo di ‘X’ atau Twitter terkait pernyataan di Halim kemarin menunjukkan minus 96 persen. Netizen menginginkan netralitas presiden dan tidak ingin Joko Widodo memiliki keberpihakan didasari konflik kepentingan karena anaknya menjadi cawapres dan ketua umum partai, sementara identitas partai Joko Widodo belum berubah,” jelas mantan Gubernur Lemhannas itu.
Andi menyebut suara-suara lain di media sosial menginginkan Presiden Jokowi fokus menyelesaikan masa jabatan keduanya sampai 20 Oktober 2024, terutama karena banyak persoalan dalam negeri maupun global yang perlu perhatian secara serius.
“Dari krisis ekonomi di Hong Kong, konflik Timur Tengah, sampai harga nikel yang terus turun memerlukan fokus presiden untuk dikerjakan, daripada ‘cawe-cawe’ urusan pemilu,” ungkapnya.
Lihat Juga :