Booming-nya Fenomena Child-Free: Memilih Hidup tanpa Anak Semakin Populer
Kamis, 04 Januari 2024 - 16:44 WIB
Istilah child-free atau keinginan seseorang untuk tidak memiliki anak saat ini tengah berkembang di Indonesia. Isu ini menjadi fenomenal karena mengundang banyak perdebatan maupun pro dan kontra di masyarakat, menghadirkan beragam opini serta ruang diskusi dari berbagai pihak. Adanya kontroversi mengenai fenomena child-free menunjukkan bahwa konsep ini masih tergolong tabu di Indonesia.
Apalagi jika mengingat Indonesia merupakan negara pronatalis atau negara yang mendukung kelahiran anak dengan tingkat kelahiran sebesar 93%, dengan masih adanya keyakinan yang begitu kental di dalam masyarakat bahwa kehadiran anak merupakan hal yang penting dalam pernikahan (Tanaka & Johnson, 2016).
Sebenarnya ‘child-free’ telah ada sejak awal 1900-an, meskipun baru pada tahun 1970-an para feminis mulai menggunakannya secara lebih luas, sebagai cara untuk menunjukkan perempuan yang secara sukarela tidak memiliki anak. Sedangkan di Indonesia istilah ini baru marak sekitar tahun 2021 an.
Akhiran ‘free’ atau ‘bebas’ dipilih untuk menangkap rasa kebebasan dan kurangnya kewajiban yang dirasakan oleh banyak dari mereka yang secara sukarela memutuskan untuk tidak memiliki anak. Namun, sebagian besar penelitian akademis biasanya “mengelompokkan semua orang yang tidak memiliki anak ke dalam kelompok yang sama,” jelas Elizabeth Hintz, asisten profesor komunikasi di University of Connecticut, AS, yang mempelajari persepsi tentang identitas mereka yang child-free.
Ini tidak mencerminkan pengalaman dan perasaan yang sangat berbeda dari orang-orang yang child-free dan childless, katanya, dan berarti ada kekurangan data komparatif jangka panjang yang secara khusus melihat kedua kelompok tersebut (Savage, 2023).
Fenomena child-free pada generasi milenial semakin banyak terjadi di masyarakat saat ini. Hal ini menunjukkan adanya perubahan nilai dan pandangan tentang kehidupan keluarga di era modern.
Menurut Nirmala Ika Kusumaningrum, konselor keluarga dan psikolog klinis dewasa dari Universitas Indonesia, istilah child-free sudah bukan hal yang baru di kalangan generasi milenial. Ia juga mengungkap beberapa alasan yang mendasari fenomena ini; pengalaman tumbuh dewasa, trauma pengasuhan masa kecil, masalah ekonomi dan kesehatan mental, hingga pemikiran mengenai beratnya tanggung jawab menjadi orang tua.
Generasi milenial sudah memiliki kesadaran bahwa anak juga membutuhkan dukungan emosional dan kasih sayang, selain kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Kusumaningrum menambahkan, variabel lain yang ikut menjadi penyebab meningkatnya child-free pada generasi milenial adalah aksesibilitas.
Apalagi jika mengingat Indonesia merupakan negara pronatalis atau negara yang mendukung kelahiran anak dengan tingkat kelahiran sebesar 93%, dengan masih adanya keyakinan yang begitu kental di dalam masyarakat bahwa kehadiran anak merupakan hal yang penting dalam pernikahan (Tanaka & Johnson, 2016).
Sebenarnya ‘child-free’ telah ada sejak awal 1900-an, meskipun baru pada tahun 1970-an para feminis mulai menggunakannya secara lebih luas, sebagai cara untuk menunjukkan perempuan yang secara sukarela tidak memiliki anak. Sedangkan di Indonesia istilah ini baru marak sekitar tahun 2021 an.
Akhiran ‘free’ atau ‘bebas’ dipilih untuk menangkap rasa kebebasan dan kurangnya kewajiban yang dirasakan oleh banyak dari mereka yang secara sukarela memutuskan untuk tidak memiliki anak. Namun, sebagian besar penelitian akademis biasanya “mengelompokkan semua orang yang tidak memiliki anak ke dalam kelompok yang sama,” jelas Elizabeth Hintz, asisten profesor komunikasi di University of Connecticut, AS, yang mempelajari persepsi tentang identitas mereka yang child-free.
Ini tidak mencerminkan pengalaman dan perasaan yang sangat berbeda dari orang-orang yang child-free dan childless, katanya, dan berarti ada kekurangan data komparatif jangka panjang yang secara khusus melihat kedua kelompok tersebut (Savage, 2023).
Fenomena child-free pada generasi milenial semakin banyak terjadi di masyarakat saat ini. Hal ini menunjukkan adanya perubahan nilai dan pandangan tentang kehidupan keluarga di era modern.
Menurut Nirmala Ika Kusumaningrum, konselor keluarga dan psikolog klinis dewasa dari Universitas Indonesia, istilah child-free sudah bukan hal yang baru di kalangan generasi milenial. Ia juga mengungkap beberapa alasan yang mendasari fenomena ini; pengalaman tumbuh dewasa, trauma pengasuhan masa kecil, masalah ekonomi dan kesehatan mental, hingga pemikiran mengenai beratnya tanggung jawab menjadi orang tua.
Generasi milenial sudah memiliki kesadaran bahwa anak juga membutuhkan dukungan emosional dan kasih sayang, selain kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Kusumaningrum menambahkan, variabel lain yang ikut menjadi penyebab meningkatnya child-free pada generasi milenial adalah aksesibilitas.
Lihat Juga :